CIANJUREKSPRES.ID – Sejumlah petani di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengairi lahan sawah demi menyelamatkan tanaman dari ancaman kekeringan akibat musim kemarau.
Sebagai upaya agar tanaman padi tidak kekurangan air, para petani mengandalkan mesim pompa air dari saluran irigasi atau pun sumur. Namun jerih payah tersebut dinilai belum optimal disebabkan kondisi tanah sudah kering parah.
Ketua Kelompok Tani Sukamulya Desa Sindangsari, Idan Didan, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada mesin pompa merupakan satu-satunya opsi tersisa. Sayangnya, hal ini dibayangi tingginya biaya operasional yang mencekik.
“Petani masih berupaya menyedot air menggunakan mesin pompa dari saluran irigasi dan sumur bantuan BBWS. Kendala utamanya ada pada biaya operasional untuk membeli token listrik atau bahan bakar solar,” ujar Idan, Rabu 22 Juli 2026.
Menurutnya, biaya pembelian BBM solar atau token listrik sebesar Rp100 ribu hanya cukup untuk mengoperasikan mesin pompa selama kurang lebih lima jam. Durasi tersebut dinilai sangat kurang untuk membasahi lahan pertanian yang sudah merekah.
“Kondisi tanahnya sudah terlalu keras dan kering, jadi air yang diserap jauh lebih banyak dari biasanya. Petani terpaksa menyalakan pompa lebih lama, otomatis biaya membengkak,” kata Idan.
Menurut Idan, akibat membengkaknya biaya operasional, para petani terancam mengalami kerugian besar. Sebab dari dari total 20 hektare lahan pertanian yang dikelola Kelompok Tani Sukamulya, setidaknya 5 hektare dipastikan mengalami gagal panen.
“Sedangkan sisa lahan lainnya berpotensi mengalami penurunan produktivitas yang signifikan akibat krisis pasokan air. Petani pun berharap adanya intervensi mendesak dari pemerintah daerah berupa subsidi operasional,” katanya.
Selain itu, Idan juga berharap ada bantuan dari pemerintah untuk meredam biaya operasional ini, baik dalam bentuk subsidi listrik maupun penyaluran bantuan solar agar petani tidak semakin terpuruk.












