CIANJUREKSPRES.ID – Kekeringan yang melanda Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat. Hampir 500 hektare sawah dilaporkan terbengkalai akibat kekurangan air sehingga tidak bisa ditanami.
Kondisi tersebut memaksa hampir 100 kepala keluarga (KK) mencari pekerjaan ke luar daerah, bahkan hingga ke Pulau Kalimantan, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kepala Desa Waringinsari, Nadir Muharam Abdurahman, mengatakan, warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari sektor pertanian terpaksa meninggalkan kampung halaman karena sawah mereka tidak lagi produktif. Minimnya sumber penghasilan membuat mereka harus mencari pekerjaan alternatif di luar desa.
“Karena sawah tidak bisa ditanami, sementara kebutuhan banyak, akhirnya mereka terpaksa sementara bekerja ke luar pulau. Kebanyakan mereka bekerja ke Kalimantan,” kata Nadir kepada Cianjur Ekspres, Senin 19 Oktober 2026.
Menurutnya, warga yang paling banyak terdampak berasal dari Kampung Bobojong, Kampung Sinar Pusaka, dan Kampung Cibuluh. Dari ketiga kampung tersebut, hampir 100 warga memilih bekerja ke luar daerah setelah lahan pertanian mereka mengalami kekeringan. Bahkan, sebagian lahan persawahan sudah hampir satu tahun tidak produktif akibat minimnya ketersediaan air.
Nadir menjelaskan, sebagian kecil lahan yang masih memiliki pasokan air mulai dialihfungsikan menjadi kebun cabai. Namun, sebagian besar sawah lainnya dibiarkan terbengkalai karena tidak memungkinkan untuk ditanami. Dampaknya, sumber penghasilan utama masyarakat dari sektor pertanian semakin tertekan.
Persoalan yang dihadapi warga tidak hanya menyangkut kebutuhan pengairan sawah. Kekeringan juga menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Upaya mendatangkan bantuan air pun terkendala akses menuju lokasi yang cukup jauh serta kondisi jalan yang kurang memadai.
“Jangankan untuk mengairi sawah, air untuk kebutuhan sehari-hari pun kekurangan. Sampai saat ini tidak ada air bersih. Mau meminta bantuan air bersih, aksesnya jauh dan kondisi jalannya juga kurang memadai,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan, status siaga darurat kekeringan di Jawa Barat telah diperpanjang oleh BPBD Provinsi Jawa Barat hingga Oktober 2026. Perpanjangan tersebut dilakukan karena kondisi cuaca yang masih didominasi minimnya curah hujan.
Menurut Samudra, kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diperkirakan masih berdampak hingga 2027. Akibatnya, peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan berlangsung lebih lambat dan berpengaruh terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Cianjur.
“Di awal Oktober memang sudah turun hujan di Cianjur, bahkan berturut-turut selama empat hari. Namun, durasinya hanya sekitar 15 menit dan belum merata di seluruh wilayah. Intensitas curah hujannya juga masih rendah,” kata Samudra.
Dia menjelaskan, status siaga darurat kekeringan yang semula berlaku pada Juli hingga September akhirnya diperpanjang satu bulan. Kebijakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan curah hujan yang belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada November 2026. BPBD berharap peralihan musim tersebut segera berlangsung sehingga hujan dapat kembali meningkatkan ketersediaan air di wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Desa Waringinsari berharap pasokan air segera kembali normal agar warga bisa menggarap sawah dan memperoleh penghasilan dari sektor pertanian. Pemerintah desa juga telah menggelar salat istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan serta menyebarkan surat edaran untuk mengajak masyarakat kembali melaksanakan salat istisqa pada Jumat mendatang.
Selain persoalan kekeringan, pemerintah desa mendesak agar warga yang terdampak bencana pergeseran tanah segera direlokasi sebelum musim hujan tiba. Pasalnya, sebagian warga masih bertahan di rumah yang mengalami kerusakan dan dinilai berisiko apabila hujan turun dengan intensitas tinggi.
Nadir mengungkapkan, warga khawatir jika hingga November mendatang relokasi belum terealisasi, risiko jatuhnya korban jiwa dapat meningkat. Selama musim kemarau, rumah yang rusak dinilai masih relatif aman untuk ditempati, tetapi kondisinya dikhawatirkan semakin berbahaya ketika hujan mulai turun.
Warga kini berharap dua persoalan mendesak tersebut, yakni kekeringan dan kepastian relokasi, segera mendapat penanganan. Mereka berharap hujan segera turun, ketersediaan air kembali normal, serta keselamatan warga yang tinggal di kawasan rawan pergeseran tanah dapat terjamin.












