CIANJUREKSPRES.ID – Gerakan Pangan Murah (GPM) merupakan program yang digagas dan dikoordinasikan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas). Tujuan tidak lain untuk mejaga stabilitas pasokan dan harga pangan pokok, mengendalikan inflasi daerah, serta membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan seperti salah satunya beras Stabilitasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga yang lebih terjangkau di bawah harga pasar.
Khusus di Kabupaten Cianjur, pelaksanaan GPM pada tahun ini menyisakan tanda tanya. Berdasarkan hasil investigasi Tim Redaksi Cianjur Sukabumi Ekspres, disiniyalir adanya selisih penjualan beras SPHP yang mencapai puluhan ton.
Dari berbagai sumber data yang diperoleh, tercatat sejak 13 Februari 2026 hingga 30 Agustus 2026, Dinas Pangan Kabupaten Cianjur telah menggelar 32 kali program GPM di berbagai lokasi. Dimana dalam sekali kegiatan, Dinas Pangan perlu mengajukan permintaan beras SPHP sebanyak 2.000 kilogram dari Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Cabang Kabupaten Cianjur. Sehingga total beras SPHP yang sudah diambil mencapai 64.000 kg dalam kurun waktu tersebut.
Namun, dari rincian dokumen Rekapitulasi GPM 2026 yang berisikan data program seluruh kabupaten kota di Jawa Barat, volume penjualan beras SPHP di Kabupaten Cianjur hingga Agustus 2026, hanya 25.655 kg, atau meninggalkan selisih sebanyak 38.345 kg beras yang tidak terjual dalam program GPM. Jika 38.345 kg dikalikan dengan harga jual beras SPSH yakni Rp12.000 per kg, maka omzetnya mencapai Rp460.140.000.
Guna memastikan frekuensi penjualan beras SPHP, tim Cianjur Sukabumi Ekspres beberapa kali mengunjungi langsung sejumlah kegiatan GPM. Seperti yang digelar di Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi pada 23 Juli 2026, dan berdasarkan pantauan sejak pagi hingga siang terlihat suasana GPM sepi pembeli.
Kondisi ini pun telah diberitakan di cianjurekspres.id dengan judul “Gerakan Pangan Murah di Haurwangi Cianjur Sepi Pembeli, Dinas: Mungkin Masyarakat Sedang Sibuk” yang tayang pada 23 Juli 2026. Informasi dari narasumber yang terpercaya menyebutkan, bahwa dinas saat itu tidak menurunkan seluruh beras SPHP di lokasi GPM Haurwangi. Dari 2.000 kg yang harus dijual, dialihkan ke GPM mobile di Alun-alun Cianjur. Tapi dalam dokumen rekapitulasi, Dinas Pangan mencatat sebanyak 2.000 kg beras SPHP telah terjual, tanpa mencantumkan hasil penjualan GPM mobile di Alun-alun Cianjur.
Padahal, dari informasi yang diterima Cianjur Sukabumi Ekspres, menyebutkan jika penjualan beras SPHP di Haurwangi itu hanya ada 8 pack terjual atau 40 kg. Sementara keesokan harinya, GPM di Kecamatan Cikadu dan Sindangbarang, tercatat beras SPHP terjual 2.000 kg alias habis.
Lalu, ke mana kah puluhan ton beras SPHP sisa dari GPM?
Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Dinas Pangan Kabupaten Cianjur, Nurman Mak’sum Ishak, menyebutkan, terdapat sekitar 50 kali kegiatan GPM yang dilaksanakan hingga akhir September 2026 dengan total pengambilan beras SPHP dari Bulog jumlah mencapai 100.000 kg.
Jika dihitung selama Februari hingga Agustus 2026 atau selama 7 bulan, Dinas Pangan telah menggelar 32 kali GPM dengan rerata 4 kegiatan per bulan. Nurman pun mengungkapkan, pihaknya pada September 2026 telah menggelar kurang lebih 18 kegiatan GPM, atau naik 350 persen frekuensinya kegiatannya dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Terkait sisa beras SPHP yang tidak terjual di kegiatan GPM, kata Nurman, disalurkan ke kios pangan atau dijual lagi menggunakan mobil Sistem Pangan Keliling Andalan (Sipangkalan) yang dulunya adalah Mobil Aspirasi Kampung Juara (Maskara) milik beberapa desa yang dipinjam pakai oleh dinas.
“Tapi rata-rata habis terjual, sih,” kata Nurman kepada Cianjur Sukabumi Ekspres di kantornya, Senin 5 Oktober 2026.
Meski mengklaim ‘rata-rata habis terjual’, dirinya tak memberikan data pasti kepada Cianjur Sukabumi Ekspres. Termasuk juga tak memberikan rincian ke kios pangan mana beras SPHP sisa GPM itu disalurkan, kendati telah membuka laptopnya saat diwawancarai Cianjur Sukabumi Ekspres.
Mengacu pada data dari dokumen Rekapitulasi GPM 2026, dari total 32 kali GPM di Kabupaten Cianjur, hanya 8 GPM yang mencapai target 2.000 kg atau lebih. Jumlah tersebut diluar penjualan di GPM selama September 2026.
Menelusuri Jejak Beras SPHP Cianjur

Nurman mengaku, pada kegiatan GPM dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Bale Pancaniti, Pendopo Kabupaten Cianjur pada Kamis 1 Oktober 2026, pihaknya tidak menjual beras SPHP dengan alasan Bulog menyampaikan kuota penyalurannya secara nasional telah mencapai target.
“Untuk GPM di Pancaniti, kita memanggil pabrik beras lokal untuk menjual beras dalam GPM tersebut. Tapi karena ada pejabat Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI dan mengatakan penyaluran beras SPHP akan dilanjutkan,” katanya.
Hal itu mengindikasikan tidak ada lagi sisa beras SPHP dari GPM sebelum-sebelumnya untuk dijual di kegiatan tersebut, dan masih belum menjawab soal ke mana sisa beras yang belum terjual.
Soal kios pangan, Nurman mengatakan ada 17 kios pangan di bawah pengawasan Dinas Pangan Kabupaten Cianjur. Dari data yang berhasil dihimpun Cianjur Sukabumi Ekspres, 17 Kios pangan Kabupaten Cianjur tersebut ditandatangani Kepala Dinas Pangan kabupaten Cianjur, Firman Edi pada 29 Juli 2026. Namun, dia pun tak memberikan penjelasan dan data soal berapa penyaluran sisa beras SPHP ke kios pangan.
Untuk mencari informasi penyaluran sisa beras SPHP ke kios pangan di bawah Dinas Pangan Kabupaten Cianjur, pada 5 Agustus 2026 tim Cianjur Sukabumi Ekspres pun mencoba menelusuri beberapa dari 17 kios pangan untuk mengetahui hal tersebut.
Diantaranya, tim mendatangi Kios Pangan Fitri, di Kampung Loji, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas dan Kios Pangan Alya di Kampung Babakan Girang, Desa Pakuon, Kecamatan Sukaresmi.
Di Kios Pangan Fitri, tim Cianjur Sukabumi Ekspres bertemu dengan suami pemilik usaha, Risman. Dia mengatakan, mendaftarkan nama istrinya untuk menjadi kios pangan pada April 2026 dan baru bisa menjual beras SPHP pada Mei 2026.
Di sana, kios pangan tampak jelas karena terdapat warung, tumpukan beras SPHP, lengkap dengan banner penanda kios pangan. Bahkan, terdapat SK penetapan Kios Pangan Kabupaten Cianjur 2026 yang menempel di dinding.
“Awal itu kita membeli 1,5 ton, ternyata dihitung-hitung keuntungannya minim, setelahnya kita paksakan ambil 2 ton supaya ketutup operasionalnya. Kita beli harga Rp55.000 per karung (isi 5 kg), ambilnya di gudang Bakom. Jualnya Rp60.000 per karung, kalau diantar harganya Rp61.000,” kata Risman pada Cianjur Sukabumi Ekspres.
2 ton beras SPHP, lanjutnya, rata-rata baru habis terjual selama 1 atau 2 pekan. Selama Mei hingga Agustus 2026, dirinya pun selalu membeli beras SPHP di Gudang Bulog Cianjur yang ada di Desa Bakom, Kecamatan Mande. Selama 15 menit di sesi wawancara, Risman pun tak pernah menyinggung soal menerima sisa beras SPHP dari kegiatan GPM.
Sementara di Kios Pangan Alya, tidak ada tanda-tanda penjualan beras SPHP sama sekali. Di foto yang tertera di daftar Kios Pangan Kabupaten Cianjur, lokasi kios pangan ada di garasi samping kediaman. Namun garasi tertutup rapat, hanya ada banner usaha buket seserahan. Informasi yang didapat, Kios Pangan Alya tersebut dimiliki Muhaemin.
Tak jauh dari rumah tersebut, tim Cianjur Sukabumi Ekspres menemukan mobil Maskara terparkir di tanah kosong. Usut punya usut, mobil tersebut akan dihias untuk perhelatan Cianjur Fest pada 22 Agustus 2026.
Di sisi lain, tim Cianjur Ekspres pun beberapa kali mengunjungi Kios Pangan Merdeka yang berada di Pasar Induk Cianjur, Kecamatan Cilaku. Tapi, tak pernah menemukan kios pangan tersebut terbuka.













Respon (1)