CIANJUREKSPRES.ID – Pelaku usaha yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas wisata di kawasan Jangari, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, mengeluhkan penurunan omzet akibat berkurangnya jumlah wisatawan yang berkunjung. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur yang mencatat adanya peningkatan kunjungan wisatawan pada tahun 2026.
Salah seorang nahkoda perahu di Waduk Jangari Cirata, YH (34), mengatakan, tingkat kunjungan wisatawan ke Jangari dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan sekitar 15 hingga 20 persen, terutama dari wisatawan lokal.
“Sekarang sudah banyak tempat wisata lain yang lebih menarik. Sementara Jangari dari segi infrastruktur sudah kurang, jalannya juga jelek,” ujar YH kepada Cianjur Ekspres, Rabu 24 Juni 2026.
Menurutnya, kondisi tata ruang kawasan wisata yang dinilai kurang tertata dan terkesan kumuh turut mengurangi daya tarik wisata. Dia menilai, saat ini Jangari hanya mengandalkan wisata perahu tanpa adanya atraksi atau fasilitas pendukung lainnya.
“Yang naik perahu juga dari kalangan pemancing cenderung turun. Banyak yang sekarang lewat jalur pinggir menggunakan motor yang langsung ke lapak pemancingan,” katanya.
YH menambahkan, penurunan juga terjadi pada wisatawan yang menggunakan jasa perahu wisata. Jika sebelumnya setiap akhir pekan sebagian besar nahkoda mendapat giliran mengantar wisatawan, kini hanya sebagian kecil yang memperoleh penumpang.
“Dari sekitar 30 nahkoda, paling yang kebagian narik hanya 10 orang. Wisatawan asing dari Timur Tengah yang dulu sering datang juga sekarang sudah jarang,” ungkapnya.
Dia berharap pemerintah dapat memperbaiki infrastruktur jalan menuju lokasi wisata, menata kawasan Jangari agar lebih menarik, serta mengatasi persoalan sampah dan eceng gondok yang mengganggu aktivitas perahu.
“Eceng gondok dan sampah plastik sering nyangkut di baling-baling perahu sehingga mengganggu operasional,” katanya.
Sementara itu, Camat Mande, Epi Rusmana, mengakui kondisi wisata Jangari saat ini mengalami penurunan. Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah fasilitas yang belum memadai serta banyaknya sampah dan eceng gondok di perairan.
Dia mengatakan, pemerintah kecamatan bersama Forkopimcam dan masyarakat rutin melaksanakan kegiatan pembersihan kawasan Jangari setiap Jumat.
“Kadang hasil pengangkutan eceng gondok sampai 30 sampai 50 mobil. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus dilanjutkan karena bermanfaat untuk lingkungan dan pariwisata,” ujarnya.
Epi juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, karena kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan keberlangsungan sektor wisata.
“Mudah-mudahan setelah bersih bisa memacu wisatawan datang kembali. Dulu Jangari lebih terkenal sebagai destinasi wisata, sekarang memang mengalami penurunan,” katanya.
Meski demikian, aktivitas pemancing masih tergolong ramai. Menurutnya, jumlah pemancing yang datang setiap hari bisa mencapai ratusan orang, bahkan pada waktu tertentu mencapai sekitar 500 orang per hari.
Di sisi lain, Kepala Disbudpar Kabupaten Cianjur, Yudha Azwar, menyebut, berdasarkan data tiket masuk yang tercatat di gerbang wisata, jumlah kunjungan ke Jangari justru mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
“Data yang ada di kami seperti itu, masih ada peningkatan kunjungan dan untuk Jangari sementara masih aman. Kita masih melihat perkembangan hingga akhir tahun,” kata Yudha.
Dia menjelaskan, tarif masuk kawasan wisata Jangari sebesar Rp5 ribu per orang, baik untuk wisatawan maupun pemancing. Seluruh data kunjungan dihitung berdasarkan jumlah tiket yang terjual di gerbang masuk.
Berdasarkan data Disbudpar, jumlah kunjungan wisatawan ke Jangari pada periode Januari hingga Juni 2025 tercatat sebanyak 8.304 orang. Sementara pada periode yang sama tahun 2026 jumlahnya meningkat menjadi 10.658 orang.
Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, Disbudpar terus melakukan promosi melalui media sosial serta menjalin kerja sama dengan sektor perhotelan.
Terkait penataan kawasan wisata, Yudha menjelaskan bahwa sebagian besar area Jangari berada di bawah kewenangan Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC), sehingga pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam melakukan penataan langsung.
“Kami sudah mengusulkan pemeliharaan jalan kepada dinas terkait. Selain itu, desa dan kecamatan juga kami dorong untuk mengusulkan kebutuhan infrastruktur melalui musrenbang agar kawasan wisata tetap terpelihara,” pungkasnya.












