CIANJUREKSPRES.ID – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cianjur masih berada di posisi paling terendah dari 27 kota/kabuppaten di Jawa Barat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025 menunjukkan angka 69,84.
Meski capaian ini menunjukkan peningkatan sebesar 0,95 poin dibandingkan IPM tahun sebelumnya di 2024 yang berada di angka 68,89, Kabupaten Cianjur tetap berada di peringkat 27.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, mengakui masih rendahnya IPM menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan bersama. Menurutnya, luas wilayah dan karakteristik geografis Cianjur menjadi salah satu tantangan dalam pemerataan pembangunan.
“Terkait IPM, kita menyadari Cianjur memang memiliki daerah yang luas, masyarakat banyak. Bukan daerah perkotaan tapi kabupaten,” katanya kepada wartawan usai peringatan Hari Jadi Cianjur (HJC) ke-349, Minggu (12/7).
Meski begitu, Wahyu menegaskan, peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
“Tentu jadi cita-cita kita semua untuk meningkatkan IPM. Kami bekerja keras dibantu berbagai elemen masyarakat, menaikkan pendidikan, kesehatan, dan pembangunan. Semoga ke depannya IPM meningkat,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang kerap dipanggil Kang Dedi Mulyadi (KDM), meminta Pemerintah Kabupaten Cianjur memperkuat akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat di wilayah selatan yang masih memiliki keterbatasan layanan pendidikan.
“Dorong anak-anak di selatan Cianjur untuk sekolah. Perbanyak layanan pendidikan. Daerah mana yang jauh dari sekolah didata. Siapkan lahannya oleh (pemerintah,red) kabupaten, nanti dibangun oleh Pemprov,” kata Dedi.(cr1)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cianjur masih berada di posisi paling terendah dari 27 kota/kabupaten di Jawa Barat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025 menunjukkan angka 69,84. (Foto: BPS)












