CIANJUREKSPRES.ID – Tumpukan sampah yang memenuhi aliran hilir Sungai Cikundul di Kampung Maleber, Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, dikeluhkan warga. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan karena menimbulkan bau menyengat dan dikhawatirkan memicu banjir saat hujan deras.
Ketua RT 01 Kampung Maleber, Agus Gunawan, mengatakan, penumpukan sampah di kawasan tersebut hampir terjadi setiap hari, terutama setelah hujan mengguyur wilayah hulu Sungai Cikundul.
Menurutnya, meningkatnya debit air membuat sampah dari kawasan hulu terbawa arus dan akhirnya tersangkut di sekitar Jembatan Maleber hingga menumpuk di bagian hilir sungai.
“Kalau habis hujan deras, volume sampahnya makin banyak. Sampah-sampah itu tertahan di badan jembatan sehingga terus menumpuk,” katanya, Selasa 12 Mei 2026.
Dia menyebut, tumpukan sampah tidak hanya menutupi aliran sungai, tetapi juga mengendap di bagian tepian hingga menyerupai hamparan daratan.
“Sekarang bukan cuma di aliran sungainya saja, di pinggirannya juga sudah penuh sampah. Kondisinya seperti daratan sampah,” ujarnya.
Dia menuturkan, kondisi tersebut, membuat warga sekitar merasa terganggu karena aroma tidak sedap yang muncul setiap hari. Selain itu, warga juga khawatir aliran sungai tersumbat dan memicu luapan air ketika hujan deras turun.
“Bau sampahnya sangat mengganggu warga yang tinggal dekat sungai. Kami juga khawatir kalau hujan besar datang bisa menyebabkan banjir karena aliran air tersumbat,” katanya.
Dia menambahkan, meski pembersihan sempat dilakukan, kiriman sampah dari wilayah hulu terus berdatangan sehingga kondisi sungai kembali dipenuhi sampah dalam waktu singkat.
“Sudah dibersihkan juga tetap muncul lagi. Sampahnya terus datang dari atas karena masih banyak yang buang sampah sembarangan ke sungai,” kata Agus.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Komarudin, mengatakan, pihaknya telah melakukan penanganan di kawasan hilir Sungai Cikundul, terutama di dekat muara Waduk Cirata.
Menurutnya, dalam tiga hari terakhir petugas berhasil mengangkut sekitar enam ton sampah dari aliran sungai tersebut.
“Kami sudah melakukan pembersihan di hilir Sungai Cikundul. Selama tiga hari terakhir sekitar enam ton sampah berhasil diangkut,” katanya.
Dia menjelaskan, sebagian besar sampah yang ditemukan merupakan sampah plastik, sedangkan sisanya berupa sampah organik.
“Sekitar 80 persen sampah yang diangkut itu sampah plastik, sisanya organik,” tuturnya.
Komarudin menilai persoalan tersebut tidak bisa hanya diselesaikan melalui pembersihan rutin, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai di wilayah hulu.
“Untuk jangka panjang kami mengimbau masyarakat khususnya di kawasan hulu sungai, agar tidak membuang sampah ke aliran sungai. Karena dampaknya dirasakan langsung oleh warga di bagian hilir,” katanya.
Dia juga mengingatkan, penumpukan sampah di sungai berpotensi meningkatkan risiko terjadinya banjir saat curah hujan tinggi.
“Kita harus sama-sama menjaga lingkungan supaya tetap bersih dan mengurangi risiko bencana banjir,” pungkasnya.












