CIANJUREKSPRES.ID – Harga berbagai jenis cabai dan sayuran di Pasar Muka, Kabupaten Cianjur, mengalami penurunan dalam sebulan terakhir. Melimpahnya pasokan setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) libur disebut menjadi salah satu penyebab turunnya harga tersebut.
Salah seorang pedagang sayur di Pasar Muka Cianjur, Riyan Mustaqim mengatakan, hampir seluruh jenis cabai mengalami penurunan harga.
“Semua cabai turun. Cabai keriting hijau yang sebelumnya Rp40 ribu per kilogram sekarang jadi Rp28 ribu. Cabai keriting merah turun dari Rp60 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram,” katanya, Selasa 30 Juni 2026.
Menurutnya, penurunan paling signifikan terjadi pada cabai domba rawit merah yang kini dijual Rp50 ribu per kilogram, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp100 ribu per kilogram.
“Cabai domba rawit merah sekarang Rp50 ribu, sebelumnya Rp100 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit hijau turun dari sekitar Rp80 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram,” katanya.
Sementara itu, cabai hijau masih standar tidak mengalami kenaikan atau penurunan harga. “Kalau cabai hijau mah standar sih gak naik gak turun, di harga Rp30 ribu per kilo nya,” ucapnya.
Tak hanya cabai, sejumlah sayuran juga mengalami penurunan harga. Selada bokor dan wortel juga mengalami penurunan harga.
“Selada bokor itu sekarang Rp15 ribu per kilogram, asalnya Rp28 ribu. Selain selada, wortel juga turun. Wortel berastagi dari Rp24 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram. Kalau wortel biasa dari Rp15 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram,” papar Riyan.
Ia menyebut bawang merah dan bawang putih juga mengalami penurunan, meski tidak sebesar komoditas lainnya. “Bawang merah sekarang sekitar Rp50 ribu per kilogram, bawang putih Rp40 ribu per kilogram. Turunnya sekitar Rp5 ribu,” katanya.
Riyan menjelaskan, turunnya harga dipengaruhi melimpahnya pasokan dari petani setelah program MBG berhenti sementara selama masa libur sekolah.
“Kalau MBG berjalan, sebagian hasil panen langsung diambil untuk program itu. Sekarang karena MBG libur, pasokan yang biasanya masuk ke MBG jadi masuk ke pasar semua, sehingga stok melimpah dan harga turun. Jadi pasokan dari petani nya itu pas MBG berjalan itu jadi 50% ke program MBG, 50% ke kita (pasar). Kan memang program MBG itu biasanya langsung ngambil ke petani, jarang ke pasar,” jelasnya.
Meski harga turun, Riyan mengaku kondisi tersebut belum berdampak pada peningkatan penjualan. Aktivitas jual beli masih cenderung normal.
“Penjualannya standar saja, tidak naik ataupun turun. omset sekarang sekitar Rp4 juta per hari, kalau sedang ramai bisa sampai Rp6 juta,” pungkasnya.












