Harga Ayam di Pasar Muka Cianjur Tembus Rp45 Ribu per Kilogram

Seorang pedagang daging ayam di Pasar Muka Cianjur sedang menjaga lapaknya sambil menunggu pembeli, Rabu 2 September 2026.(Foto : Cianjur Ekspres/Akmal Esa Nugraha)

CIANJUREKSPRES.ID – Harga daging ayam di Pasar Muka, Kabupaten Cianjur melonjak sampai di kisaran Rp45 ribu per kilogram. Kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar tiga pekan dan membuat penjualan pedagang ikut mengalami penurunan.

Salah seorang pedagang daging ayam, Danu Dwi Prasetyo (35), mengatakan harga ayam potong yang sebelumnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram kini meningkat hingga Rp45 ribu per kilogram.

“Kalau normalnya di kisaran Rp35 ribu. Tapi hampir tiga minggu ini sudah di angka Rp45 ribu. Naiknya signifikan Rp10 ribu,” ujarnya, Rabu 2 September 2026.

Menurutnya, kenaikan harga tersebut salah satunya dipengaruhi meningkatnya kebutuhan ayam untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi itu membuat pasokan ayam yang tersedia untuk pasar menjadi lebih terbatas.

“Faktornya kalau bisa dibilang memang pemakaian MBG makin meningkat. Otomatis stok di PT terus-terusan keluar, sehingga yang seharusnya belum dipanen terpaksa harus dipanen,” katanya.

Dia menyebut, kebutuhan ayam untuk MBG umumnya tidak dibeli melalui pasar. Sebagian pembelian dilakukan langsung ke perusahaan atau melalui bandar.

“Ada yang ke PT langsung, ada yang ke bandar. Jarang ada yang beli di pasar. Jadi di pasar naik karena stoknya langka,” kata Danu.

“Pedagang-pedagang kecil seperti ini tidak menerima manisnya, tapi pahitnya ikut menerima. Maksudnya harga mahalnya ikut menerima, tapi tidak ikut mendapatkan pesanan MBG,” ujar Danu menambahkan.

Selain itu, dia mengatakan daya beli masyarakat juga ikut melemah. Kondisi pasar justru cenderung lesu meskipun harga ayam sedang tinggi.

“Penjualan pastinya turun. Bisa dibilang sampai 40 persen,” ucap Danu.

Danu menyebut, sebelum harga ayam mengalami kenaikan, omzet penjualan hariannya bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Namun, dalam tiga minggu terakhir omzetnya turun menjadi sekitar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per hari.

“Kalau sebelum harga naik paling di kisaran Rp1,5 juta sampai Rp2 juta. Sekarang sekitar Rp800 ribu sampai Rp900 ribu per hari,” tuturnya.

Menurutnya, pelanggan tetap seperti warung nasi dan rumah makan juga mulai mengurangi jumlah pembelian. Bahkan, ada pelanggan yang sebelumnya membeli hingga 10 kilogram kini hanya membeli sekitar 5-6 kilogram.

“Warung nasi atau rumah makan gitu kan yang tadinya bisa beli per orang 10 kilogram atau 5 kilogram, sekarang setengahnya karena terpaksa harga tidak terjangkau,” katanya.

Dia berharap harga daging ayam dapat kembali stabil sehingga tidak semakin membebani pedagang maupun masyarakat.

“Harapannya harga bisa stabil. Karena untuk pedagang kecil seperti ini susah menjangkau harga segitu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *