SPPG Serap Produksi UMKM, Produksi Naik dan Ciptakan Lapangan Kerja Baru

Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil di Kabupaten Cianjur.
Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil di Kabupaten Cianjur.(dok.pribadi)

CIANJUREKSPRES.ID – Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil di Kabupaten Cianjur.

Salah satunya dirasakan pelaku UMKM produksi tempe, Wiwi Winarti, yang mengaku omzet usahanya meningkat setelah rutin menyuplai kebutuhan tempe ke sejumlah dapur program MBG, salah satunya SPPG Sukanagara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Cianjur Ekspres, usaha tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan sang suami, yakni Anwar Sutisna Wirawan.

Wiwi mengatakan, dia memasok ke dapur program MBG melalui Koperasi Sukriya Bakti Utama yang kemudian menyalurkan kebutuhan tersebut ke dapur MBG milik Yayasan Hayatul Muslihin di Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur.

“Iya betul, saya menyuplai tempe ke dapur program MBG yaitu SPPG di Sukanagara,” katanya saat dihubungi Cianjur Ekspres, Senin 27 April 2026.

Menurutnya, sejak menjadi pemasok dapur MBG, kapasitas produksi tempe miliknya meningkat cukup signifikan. Sebelum ada pesanan dari SPPG, produksi harian hanya sekitar 1,5 kuintal. Kini naik menjadi sekitar 2,5 kuintal per hari.

“Alhamdulillah naik. Dulu bikin cuma satu kuintal setengah, sekarang bisa sampai dua kuintal setengah per hari,” katanya.

Dia menjelaskan, sebagian besar hasil produksi tersebut terserap untuk kebutuhan dapur SPPG. Bahkan, ketika pesanan sedang tinggi, pasokan untuk pasar umum terkadang berkurang.

“Kalau untuk MBG itu jelas habis karena sudah sesuai pesanan. Kadang kalau order banyak, ke pasar jadi tidak kebagian,” katanya.

Wiwin menyebut, jumlah pesanan dari masing-masing dapur berbeda setiap hari, mulai dari 300 hingga 400 potong, tergantung kebutuhan.

“Setiap dapur beda-beda, ada yang pesan 300 potong, ada yang 400 potong per hari,” katanya.

Dari peningkatan usaha tersebut, dia mengaku pendapatannya naik. Bahkan, dia juga menyebut dengan meningkatnya produksi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja.

“Alhamdulillah omset naik. Awalnya pekerja itu lima orang, sekarang jadi sembilan pekerja tetap. Ada juga dua orang cadangan kalau lagi banyak pesanan. Ya alhamdulillah menghasilkan lapangan kerja juga,” katanya.

Menurutnya, dia dengan sang suami turut turun langsung untuk membantu proses produksi setiap hari.

“Saya sama suami ikut turun tangan langsung. Alhamdulillah jadi bisa bantu buka lapangan kerja juga untuk tetangga dan saudara,” katanya.

Meski begitu, dia mengaku saat ini tantangan terbesar berasal dari naiknya harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe.

“Harga kedelai sekarang naik banget. Jadi kemarin saya tanya-tanya dulu nih, mau di perkecil barangnya atau mau naik harganya, dan ternyata mereka pengen barangnya tetap tidak diperkecil atau dikurangi. Jadi kemarin saya naikkan harganya,” katanya.

Dia mengatakan, harga tempe yang sebelumnya Rp3.500 per potong kini naik menjadi Rp3.700 per potong untuk menyesuaikan biaya produksi.

“Sekarang naik Rp200 per potong, jadi Rp3.700,” katanya.

Wiwin berharap program dapur SPPG dapat terus berjalan, sehingga para pengrajin tempe dan tahu tetap memiliki tambahan pasar yang menjanjikan.

“Harapannya semoga SPPG terus ada. Jadi pengrajin tempe tahu seperti kami tetap punya pemasukan tambahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *