Ribuan Ekor Ikan di Waduk Jangari Cianjur Mati

Ribuan ekor ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jangari, Kabupaten Cianjur, mati.(Tangkapan Layar Dokumentasi Pribadi)
Ribuan ekor ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jangari, Kabupaten Cianjur, mati.(Tangkapan Layar Dokumentasi Pribadi)

CIANJUREKSPRES.ID – Ribuan ekor ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jangari, Kabupaten Cianjur, mati. Akibatnya, para petani ikan pun ditaksir merugi hingga miliaran rupiah.

Matinya puluhan ton ikan budidaya jenis ikan mas dan nila itu diduga akibat upwelling atau naiknya massa air dari dasar perairan ke permukaan yang menyebabkan kadar oksigen menurun.

Petani ikan KJA, Zainal (52) mengaku, peristiwa itu sudah terjadi sekitar sepekan yang lalu, diakibatkan banyaknya tumbuhan eceng gondok serta sampah yang menutupi permukaan air.

“Punya saya saja ada sekitar empat kolam yang ikannya mati semua, belum di KJA yang lainnya. Total, mungkin mencapai sekitar 50 ton,” katanya, Minggu 19 Juli 2026.

Menurutnya kematian ribuan ekor ikan budidaya itu terjadi secara mendadak dan dalam waktu yang singkat.

“Kejadiannya sangat cepat, sehingga kami tidak sempat menyelamatkan atau memindahkan ikan,” katanya.

Selain harus kehilangan hasil panen, kata Zainal, para petani KJA juga harus menanggung kerugian akibat biaya pakan, benih, dan operasional budidaya yang telah dikeluarkan selama masa pemeliharaan.

“Kami berharap pemerintah segera turun tangan dengan persoalan atau peristiwa yang dihadapi para petani ikan budidaya KJA ini,” katanya.

Dia mengatakan, selama ini pemerintah daerah tidak pernah sedikitpun memberikan perhatian terhadap nasib para petani KJA di Perairan Jangari, Waduk Cirata, Cianjur.

“Misalnya pemerintah daerah, dari dinas terkait setidaknya memberikan edukasi tentang sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi upwelling sehingga panen dapat dilakukan lebih cepat sebelum ikan mati. Bagus-bagus adanya bantuan bibit atau pakan, itu juga yang sangat diharapkan para petani,” ucapnya.

Petani ikan KJA lainnya, Munawar (50) menjelaskan, kerugian yang dialaminya akibat matinya ribuan ekor ikan membuatnya berutang ke bandar.

“Tahun ini, tidak ada untung, yang ada hanya utang yang harus tetap dibayar ke bandar. Karena, kami sudah pinjam buat pakan, bibit dan biaya operasional. Selama ini tidak pernah ada bantuan dari pemerintah,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *