CIANJUREKSPRES.ID- Arus mudik Lebaran selalu menjadi momen penting bagi mobilitas masyarakat antar pulau di Indonesia. Pada Angkutan Lebaran 2026 (1447 Hijriah), pergerakan masyarakat melalui lintasan penyeberangan Bakauheni–Merak diperkirakan kembali mengalami peningkatan.
Berdasarkan proyeksi operasional, sekitar 108.952 penumpang pejalan kaki dan 353.901 kendaraan diperkirakan akan menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak selama periode layanan mudik tahun ini.
Lintasan penyeberangan Bakauheni–Merak merupakan jalur vital yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Jalur ini tidak hanya menjadi penghubung mobilitas masyarakat, tetapi juga berperan penting dalam distribusi logistik nasional. Oleh karena itu, kelancaran operasional penyeberangan membutuhkan dukungan dan koordinasi dari berbagai pihak, mulai dari regulator, operator pelabuhan, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Pada Angkutan Lebaran 2026, sebanyak 57 unit kapal disiapkan untuk melayani penyeberangan di lintasan utama Bakauheni–Merak. Selama periode layanan, diperkirakan akan berlangsung 2.949 perjalanan kapal (trip) guna mengakomodasi tingginya mobilitas masyarakat saat arus mudik maupun arus balik.
Jika dibandingkan dengan Angkutan Lebaran 2025, jumlah pergerakan penumpang dari Sumatera menuju Jawa diproyeksikan meningkat sekitar 11,2 persen, sementara jumlah kendaraan naik sekitar 10,5 persen. Adapun jumlah perjalanan kapal juga diperkirakan bertambah sekitar 7 persen.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Utama Bakauheni, Partogi Tamba, mengatakan bahwa pengaturan lalu lintas penyeberangan selama periode Lebaran berada di bawah kewenangan regulator. ASDP sebagai operator berkomitmen mendukung setiap kebijakan yang diterapkan guna menjaga kelancaran arus kendaraan dan penumpang.
Menurutnya, pengaturan jadwal operasional kapal, kapasitas layanan, hingga manajemen lalu lintas penyeberangan merupakan kewenangan regulator seperti KSOP maupun BPTD. “ASDP sebagai operator mendukung penuh kebijakan tersebut melalui koordinasi intensif agar layanan selama Angkutan Lebaran dapat berjalan aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.
Posko Angkutan Lebaran dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 31 Maret 2026. Pada periode tersebut, dinamika arus penyeberangan diperkirakan cukup tinggi karena berdekatan dengan dua momen besar, yakni Hari Raya Nyepi pada 18–19 Maret 2026 serta Hari Raya Idul Fitri pada 21–22 Maret 2026.
Sementara itu, Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan Angkutan Lebaran tidak terlepas dari kerja sama lintas instansi. Sinergi antara regulator, operator, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran layanan penyeberangan selama periode mudik dan arus balik.
Untuk mengantisipasi kepadatan saat arus balik Lebaran, pengaturan operasional akan diterapkan sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) lintas instansi. Pada periode 23–29 Maret 2026, Pelabuhan Bakauheni akan diprioritaskan untuk melayani penumpang pejalan kaki serta kendaraan golongan I hingga VI A yang menuju Pelabuhan Merak.
Sementara kendaraan logistik besar golongan V B hingga IX akan dialihkan melalui Pelabuhan BBJ Muara Pilu menuju Bojonegara guna mengurangi potensi kepadatan di lintasan utama. Penjualan tiket kendaraan logistik tersebut juga akan dihentikan sementara di Pelabuhan Bakauheni untuk keberangkatan mulai 23 Maret pukul 00.00 WIB hingga 29 Maret 2026 pukul 24.00 WIB.
Selama periode tersebut, juga akan diberlakukan kebijakan tarif satu harga (single tarif) yang berlaku sebagai tarif reguler.
Sejalan dengan transformasi digital layanan, masyarakat diimbau untuk membeli tiket penyeberangan lebih awal melalui platform Ferizy, karena tidak tersedia penjualan tiket secara langsung di pelabuhan.
Partogi menegaskan bahwa prinsip layanan yang diterapkan adalah “No Ticket, No Ride”. Tiket harus sudah dimiliki paling lambat satu hari sebelum keberangkatan dan dapat dipesan sejak H-60 melalui aplikasi maupun kanal resmi Ferizy.
Untuk mendukung operasional Angkutan Lebaran 2026, ASDP juga menyiapkan 786 personel operasional serta memperkuat berbagai fasilitas layanan, seperti buffer zone, sistem delaying kendaraan, pemantauan melalui CCTV, layanan kesehatan selama 24 jam, hingga optimalisasi waktu sandar kapal guna memastikan kelancaran operasional.
ASDP berharap masyarakat dapat merencanakan perjalanan lebih awal serta mematuhi pengaturan operasional yang berlaku agar perjalanan mudik dapat berlangsung lancar, tertib, nyaman, dan selamat sampai tujuan.












