CIANJUREKSPRES.ID- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi untuk periode Dasarian III Maret 2026 yang masih berpotensi berlanjut hingga awal April 2026. Informasi ini dirilis pada Rabu, 1 April 2026 pukul 09.57 WIB.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air di sejumlah wilayah Indonesia.
Wilayah Berstatus Waspada
Sejumlah daerah di Indonesia tercatat masuk dalam kategori waspada, di antaranya:
- Jawa Barat: Kabupaten Majalengka, Kabupaten Purwakarta
- Jawa Tengah: Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung
- Kalimantan Selatan: Kotabaru, Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Laut
- Kalimantan Timur: Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Mahakam Hulu, Kabupaten Paser
- Nusa Tenggara Timur: Kabupaten Timor Tengah Selatan
- Papua Pegunungan: Kabupaten Nduga
- Papua Tengah: Kabupaten Mimika
- Sulawesi Selatan: Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros
- Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut, Kabupaten Morowali, Kabupaten Poso
- Sumatera Selatan: Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
Tidak Ada Wilayah Siaga dan Awas
Dalam rilis tersebut, BMKG menyatakan bahwa hingga saat ini belum terdapat wilayah yang masuk kategori siaga maupun awas. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk tidak lengah karena kondisi cuaca dapat berubah sewaktu-waktu.
Imbauan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat untuk:
- Waspada terhadap potensi banjir dan longsor
- Menghindari daerah rawan bencana saat hujan lebat
- Memastikan saluran air tidak tersumbat
- Selalu memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG
Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan.












