Bisnis  

Pelemahan Rupiah Tekan UMKM Pengrajin Joran di Cianjur

Para pengrajin joran pancing di Cianjur mengaku harus menghadapi lonjakan harga bahan baku akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.(Foto: Cianjur Ekspres/Moch. Nursidin)

CIANJUREKSPRES.ID – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Cianjur. Kenaikan harga berbagai bahan baku yang bergantung pada pasar global membuat biaya produksi membengkak, dan keuntungan usaha semakin tergerus.

Salah satu sektor yang merasakan dampaknya adalah usaha pembuatan joran pancing di Kampung Pasirgombong, Desa Mekarwangi, Kecamatan Haurwangi. Para pengrajin mengaku harus menghadapi lonjakan harga bahan baku dalam beberapa bulan terakhir, sementara permintaan pasar tetap harus dipenuhi.

Pengrajin joran pancing, Pendi Supendi, mengatakan, sejumlah material utama seperti serat fiber, bahan kimia cair, plastik, hingga berbagai komponen pendukung mengalami kenaikan harga. Kondisi tersebut membuat ongkos produksi meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya.

Menurut Pendi, pembuatan joran pancing membutuhkan proses yang cukup panjang, mulai dari pengolahan serat fiber hingga menjadi produk siap pakai. Selain memerlukan ketelitian, proses produksi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Prosesnya cukup panjang dari bahan baku sampai menjadi joran siap pakai. Sekarang hampir semua bahan baku mengalami kenaikan harga sehingga keuntungan yang kami dapatkan semakin kecil,” ujarnya kepada wartawan, Minggu 7 Mei 2026.

Dia menjelaskan, hasil produksinya dipasarkan melalui penjualan langsung maupun platform daring ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan sebagian produknya telah menjangkau pasar luar negeri.

Meski keuntungan usaha terus menurun akibat naiknya biaya produksi, Pendi memilih tetap mempertahankan usahanya. Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga menjadi mata pencaharian bagi sejumlah pekerja yang terlibat dalam proses produksi.

“Kami tetap berusaha bertahan. Yang penting usaha masih berjalan, karyawan tetap bekerja, dan kebutuhan usaha bisa terpenuhi. Mudah-mudahan ke depan harga bahan baku kembali stabil,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mekarwangi, Cecep Surahman, mengatakan, UMKM menjadi salah satu sektor ekonomi yang cukup berkembang di wilayahnya. Berbagai jenis usaha tumbuh di desa tersebut, mulai dari kuliner, konveksi, kerajinan joran pancing, hingga usaha rumahan lainnya.

Menurutnya, para pelaku UMKM saat ini masih menunjukkan ketahanan meskipun menghadapi tantangan kenaikan biaya produksi. Mereka tetap menjalankan usaha dengan harapan kondisi ekonomi dan harga bahan baku dapat kembali membaik.

“Para pelaku UMKM masih bertahan karena mereka optimistis kondisi akan membaik. Harapannya harga bahan baku bisa kembali normal sehingga usaha mereka dapat berkembang lebih baik,” katanya.

Di berharap pemerintah dapat terus menghadirkan kebijakan yang mendukung stabilitas harga bahan baku serta memperkuat daya saing UMKM, mengingat sektor tersebut menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat di tingkat desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *