CIANJUREKSPRES.ID – Akses jalan yang rusak masih menjadi persoalan bagi warga di sejumlah wilayah pelosok Kabupaten Cianjur. Kondisi tersebut bahkan membuat dua remaja asal Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, harus ditandu hingga berkilo-kilometer setiap kali hendak mendapatkan pelayanan kesehatan.
Kedua remaja tersebut, Siti Lestari (15) dan Erik Setiawan (16), mengalami sakit yang menyebabkan keduanya kesulitan berjalan. Mereka pun harus mendapat bantuan keluarga untuk menuju titik yang dapat dijangkau kendaraan.
Dalam video yang beredar di media sosial, Siti terlihat ditandu menggunakan kain sarung yang diikatkan pada sebilah bambu. Keluarganya harus melewati jalan setapak serta jalan desa yang masih dalam kondisi rusak untuk membawanya berobat.
Bahkan, untuk mendapatkan pengobatan, Siti harus ditandu sejauh sekitar 10 kilometer hingga mencapai lokasi yang dapat dilalui kendaraan. Setelah itu, keluarganya membawa Siti ke fasilitas kesehatan di wilayah Kabupaten Garut yang dinilai lebih dekat dari tempat tinggalnya.
Sementara Erik harus ditandu sekitar tiga kilometer. Setelah melewati jalan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat, Erik kemudian dijemput menggunakan kendaraan dan dibawa untuk mendapatkan pengobatan di Puskesmas Cidaun maupun rumah sakit di Bandung.
Kepala Desa Cibuluh, Ana Supriatna mengatakan, kondisi tersebut bukan kali pertama dialami warga. Siti dan Erik telah mengalami sakit selama beberapa tahun dan akses jalan yang masih terbatas membuat proses menuju fasilitas kesehatan menjadi sulit.
“Untuk jalan kabupaten sudah mulai bagus, karena ada anggaran dari pusat dan kabupaten. Tapi untuk jalan desa dan setapaknya masih rusak parah. Mobil sulit untuk bisa sampai ke lokasi,” ujar Ana, Sabtu 5 September 2026.
Menurutnya, jarak yang harus ditempuh Siti cukup jauh karena keluarganya memilih mendapatkan pelayanan kesehatan di Garut. Pertimbangan tersebut dilakukan karena akses menuju Garut dinilai lebih dekat dibandingkan harus membawa Siti ke rumah sakit di Cianjur atau Bandung.
“Kalau Siti dibawa ke Garut karena dari segi jarak lebih dekat ke sana. Langsung ke rumah sakit,” katanya.
Sedangkan Erik menjalani pengobatan di Puskesmas Cidaun dan rumah sakit di Bandung. Meski jaraknya lebih dekat, keluarga tetap harus menandu Erik sekitar tiga kilometer hingga mencapai titik yang dapat dilalui kendaraan.
“Meskipun lebih dekat, tetap saja harus ditandu berkilo-kilometer untuk bisa sampai ke titik penjemputan mobil,” katanya.
Ana mengungkapkan, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala pemerintah desa dalam memperbaiki seluruh jalan yang mengalami kerusakan. Menurutnya, anggaran desa tidak dapat sepenuhnya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur jalan.
“Saat anggaran masih Rp1 miliar, alokasi untuk jalan hanya 20 persen. Sedangkan jalan desa yang rusak sangat banyak. Ditambah sekarang anggaran terkena efisiensi, jadi lebih sulit lagi. Makanya sudah jadi hal yang sering terjadi warga sakit ditandu untuk berobat,” katanya.
Dia menyebut, keluarga Erik dapat menghabiskan sekitar Rp1 juta dalam sekali perjalanan untuk biaya kendaraan menuju rumah sakit.
“Keluarga Erik sekali berangkat berobat itu habis Rp1 juta. Kalau bolak-balik bisa habis lebih dari Rp2 juta, belum termasuk biaya makan dan berobatnya,” katanya.
Dia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah pelosok, baik melalui peningkatan akses jalan maupun bantuan untuk kebutuhan pengobatan warga.
“Saya harap diperhatikan, ada bantuan yang turun. Tapi tidak hanya untuk jalan, termasuk biaya berobat untuk kedua warga kami ini,” katanya.
Sementara itu, Camat Cidaun Gagan Rusganda mengatakan, pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan akses jalan di wilayah pelosok. Sebelumnya, anggaran puluhan miliar juga telah dialokasikan untuk pembangunan jalan kabupaten di wilayah Cidaun dan Naringgul.
“Bahkan sebelumnya anggaran mencapai puluhan miliar dialokasikan untuk membangun jalan kabupaten di Cidaun dan Naringgul,” katanya.
Terkait kondisi Siti dan Erik, Gagan menjelaskan keduanya tinggal di lokasi yang aksesnya masih berupa jalan setapak. Kondisi kesehatan keduanya yang tidak memungkinkan untuk berjalan membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan cara ditandu.
“Kami kemarin juga turut bantu evakuasi warga yang sakit tersebut. Jalannya memang setapak, dan keduanya sudah tidak memungkinkan berjalan karena sakitnya. Sehingga ditandu,” katanya.
Gagan memastikan pemerintah kecamatan akan mengusulkan perbaikan akses jalan sekaligus membantu penanganan kedua warga tersebut. Menurutnya, kebutuhan administrasi kesehatan Siti dan Erik juga telah dibantu agar keduanya dapat segera memperoleh pelayanan medis.
“Untuk perbaikan jalan kami upayakan, akan diusulkan. Terkait Erik dan Siti sudah ditangani, bahkan BPJS-nya kemarin sudah kami lunasi agar bisa segera ditangani,” pungkasnya.












