CIANJUREKSPRES.ID – Kondisi jalan utama yang rusak berat di Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, menjadi alasan utama warga nekat melintasi jembatan gantung menggunakan kendaraan roda empat.
Padahal, kondisi jembatan gantung batu bodas tersebut berbahan bambu yang hanya dapat digunakan oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Akses jalan yang rusak dan memutar membuat sebagian warga memilih jalur yang lebih singkat meski berisiko membahayakan keselamatan.
Camat Cikadu, Tonny Yuspardi, mengungkapkan, sebenarnya masyarakat masih memiliki akses lain menuju Cianjur. Namun, jalur tersebut merupakan jalan kabupaten yang kondisinya rusak berat sehingga perjalanan menjadi jauh lebih lama.
“Itu sebenarnya jalan alternatif. Jalan utamanya memang ada, tetapi kondisinya rusak berat. Jalan utama itu termasuk jalan kabupaten. Karena itu masyarakat ingin mengambil jalan pintas,” katanya, pada Senin 13 Juli 2026.
Tonny menjelaskan, jembatan gantung batu bodas menghubungkan Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikadu, dengan Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong. Jembatan itu dibangun sekitar tahun 2018 sebagai pengganti jembatan permanen yang sebelumnya hanyut diterjang banjir.
Menurutnya, sebelum diterjang banjir, jembatan tersebut dapat dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun setelah rusak, pemerintah membangun jembatan gantung yang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
“Dengan kekuatan jembatan sekitar 1,5 ton sampai maksimal 2 ton. Jadi memang tidak direkomendasikan dilintasi kendaraan roda empat,” katanya.
Tonny menyebut ruas jalan kabupaten yang mengalami kerusakan tersebut memiliki panjang sekitar sembilan kilometer. Akibatnya, banyak warga memilih melintasi jembatan gantung meski tidak sesuai dengan spesifikasi penggunaannya.
“Karena jalan utama rusak dan jaraknya lebih jauh, akhirnya warga memaksakan diri menggunakan jembatan gantung. Padahal dari spesifikasi jembatan memang tidak disarankan untuk kendaraan roda empat,” ujarnya.
Dia menambahkan menuturkan, kendaraan roda empat yang melintas di jembatan gantung bukan baru sekali terjadi.
“Menurut hasil penelusuran, itu sudah sering terjadi. Yang dikhawatirkan suatu saat beban jembatan tidak kuat sehingga bisa membahayakan pengguna,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Desa Mekarwangi, Sandi Nurhakim, mengatakan, warga memilih melintasi jembatan gantung karena menjadi akses tercepat menuju pusat Kabupaten Cianjur.
“Kalau lewat jalan utama harus memutar dan jalannya rusak berat. Masyarakat akhirnya memilih lewat jembatan itu,” katanya.
Menurutnya, jika menggunakan jalan utama, waktu tempuh menuju Cianjur bisa mencapai lebih dari dua jam. Sementara melalui jembatan gantung, perjalanan hanya sekitar satu jam.
“Kalau lewat jalan utama sekitar dua jam lebih, sedangkan lewat jembatan sekitar satu jam. Jalan kabupatennya sepanjang kurang lebih sembilan kilometer kondisinya rusak berat,” pungkasnya.












