CIANJUREKSPRES.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur memperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi rendahnya intensitas hujan di wilayah Cianjur dalam beberapa pekan terakhir.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama mengatakan, BPBD se-Jawa Barat telah mengikuti rapat bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sejumlah pihak terkait untuk membahas penanganan bencana kekeringan.
Dalam rapat tersebut, BMKG memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga satu bulan ke depan atau sekitar Oktober 2026.
“Karena tingkat intensitas hujan selama dua sampai tiga pekan ke depan untuk wilayah Jawa Barat, terutama Kabupaten Cianjur, masih rendah,” kata Samudra kepada Cianjur Sukabumi Ekspres, 14 September 2026.
Menurutnya, meskipun sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir sudah terjadi hujan namun masih bersifat lokal. Secara umum, intensitas hujan masih tergolong minim.
“Memang ada beberapa daerah yang sudah terjadi hujan, tetapi itu masih lokal. Untuk keseluruhan wilayah Jawa Barat dan Cianjur, intensitas hujan masih minim,” katanya.
Terkait status siaga darurat bencana kekeringan yang berlaku sejak Juli hingga akhir September 2026, BPBD Cianjur akan terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan situasi dan prakiraan cuaca.
Samudra menuturkan, status siaga darurat kekeringan berpeluang diperpanjang apabila kondisi kemarau masih berlangsung hingga Oktober. Namun, keputusan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan serta informasi terbaru dari BMKG.
“Melihat situasi kemarau yang masih akan terjadi sampai Oktober 2026, status siaga darurat kekeringan bisa saja diperpanjang. Tapi nanti kita melihat dulu perkembangan dan informasi lebih lanjut dari BMKG,” tuturnya.
Dia menambahkan, salah satu dampak yang paling menonjol selama musim kemarau 2026 adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang Juli hingga September 2026, BPBD Kabupaten Cianjur mencatat sebanyak 42 laporan kejadian karhutla.
“Kejadian karhutla rata-rata disebabkan ulah tangan manusia, seperti membakar sampah sembarangan hingga pembukaan lahan dengan cara dibakar,” ungkapnya












