CIANJUREKSPRES.ID – Pemerintah Kabupaten Cianjur menyebut pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak secara digital pada 2026 dapat menekan anggaran. Dengan sistem digital, pemerintah tidak lagi membutuhkan biaya besar untuk pengadaan kertas, pencetakan surat suara hingga proses rekapitulasi.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, mengatakan, anggaran Pilkades serentak 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp2,5 miliar. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan perencanaan anggaran sebelumnya.
“Ini paperless, jadi hadir ke TPS, kita mengurangi biaya dari pengadaan kertas, cetak surat suara dan lainnya, dan juga mempersingkat waktu dalam rekapitulasi,” ujar Wahyu kepada wartawan.
Menurutnya, penerapan sistem digital tersebut menjadi salah satu upaya untuk membuat pelaksanaan Pilkades lebih efisien, baik dari sisi anggaran maupun waktu.
Pilkades serentak secara digital di Kabupaten Cianjur dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026. Pelaksanaan akan dilakukan secara serentak di 47 desa yang tersebar di 23 kecamatan.
Saat ini, Pemkab Cianjur mulai memasuki tahapan sosialisasi di tingkat kabupaten. Sosialisasi tersebut melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta perangkat daerah yang nantinya terlibat dalam pelaksanaan teknis Pilkades.
“Kita memasuki salah satu tahapan Pilkades serentak secara digital di Kabupaten Cianjur, yaitu sosialisasi. Kita undang seluruh Forkopimda Kabupaten Cianjur, termasuk juga rekan-rekan yang nanti akan melaksanakan secara teknis,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Cianjur juga menghadirkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jawa Barat, Drs. Mochamad Ade Afriandi, M.T. sebagai narasumber. Selain sosialisasi, dilakukan pula simulasi untuk memberikan gambaran kepada perangkat kecamatan mengenai mekanisme pemungutan suara secara digital.
Wahyu menilai, waktu sekitar dua bulan sebelum hari pemungutan suara masih cukup untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“Insya Allah cukup. Ini waktu yang cukup memadai dibandingkan daerah lain sebetulnya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, mekanisme pemungutan suara secara digital dirancang sederhana. Pemilih nantinya cukup menggunakan perangkat yang telah disediakan dengan memindai barcode yang tersedia.
“Teknis secara digital sebetulnya mudah, karena sudah disediakan barcode yang hanya diletakkan di belakang kamera di tab tersebut. Pilihannya sudah muncul, tinggal di-klik saja,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi pemilih yang mengalami kesulitan, panitia Pilkades di masing-masing desa akan memberikan pendampingan.
Pemkab Cianjur juga mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan teknis selama pelaksanaan. Berdasarkan penjelasan narasumber dalam sosialisasi, potensi error diperkirakan sangat kecil, yakni sekitar 0,1 persen.
“Kalau dari narasumber kemungkinan 0,1, tapi semuanya sudah kita antisipasi dengan alat-alat cadangan termasuk juga mitigasi,” katanya.
Selain gangguan teknis, aspek keamanan sistem juga menjadi perhatian. Wahyu mengatakan sistem yang digunakan tidak terhubung langsung dengan internet sehingga risiko peretasan dapat diminimalkan.
“Ancaman peretasan, sementara ini kan bukan terhubung online, tapi lokal saja. Jadi datanya itu di memory card di sana. Jadi bukan terhubung dengan internet,” ujarnya.
Wahyu menambahkan, saat ini belum memasuki tahap penetapan calon kepala desa. Setelah sosialisasi tingkat kabupaten, tahapan berikutnya akan dilanjutkan dengan pembentukan panitia Pilkades.
“Untuk penetapan calon belum, saat ini masih sosialisasi tingkat kabupaten, kemudian tahap berikutnya pembentukan panitia. Perbupnya sudah ada,” pungkasnya.













Respon (1)