CIANJUREKSPRES.ID – Puluhan pelajar SMP Negeri 1 Cipanas, Kabupaten Cianjur mengikuti kegiatan pendidikan lingkungan dan budaya yang digelar Komite Sub DAS Cikundul bersama Pemerintah Desa Sindanglaya, Selasa 11 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlokasi di kawasan Sungai Cikundul ini dalam rangka memperingati Hari Pramuka 2026 yang mengusung semangat ‘Pelepah Kitri’ atau Pramuka Peduli Sampah.
Koordinator Komite Sub DAS Cikundul, Herry Trijoko, menjelaskan, dalam kegiatan ini para pelajar diajak untuk melihat persoalan lingkungan secara langsung sekaligus memahami hubungan antara lingkungan, budaya, dan kehidupan sehari-hari.
“Tidak hanya berdiskusi di dalam ruang kelas, para peserta diajak masuk ke lingkungan sungai dan kawasan hijau untuk melihat secara langsung kondisi ekosistem, vegetasi, aliran air, serta persoalan sampah. Para pelajar juga mendapatkan ruang untuk berdiskusi mengenai persoalan lingkungan yang mereka hadapi saat ini dengan pendekatan yang sesuai dengan kehidupan generasi mereka,” katanya dalam keterangan tertulisnya.
Salah satu kegiatan nyata yang dilakukan adalah pembuatan sebanyak 36 ecobrick. Ecobrick tersebut diproduksi oleh masing-masing kelas sebagai bagian dari proses pembelajaran pengelolaan sampah.
“Bagi Komite Sub DAS Cikundul, kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan ecobrick. Lebih jauh, ecobrick menjadi media untuk mengubah cara pandang pelajar bahwa sampah yang berada di sekitar mereka merupakan sesuatu yang harus dipikirkan sejak dari sumbernya,” ujar Herry.
Dia mengungkapkan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pengembangan SMP Negeri 1 Cipanas sebagai sekolah percontohan “Sekolah Sahabat Sampah”.
Program ini diarahkan agar sekolah tidak hanya berbicara tentang sampah, tetapi mulai membangun kebiasaan, sistem, dan budaya pengelolaan sampah dari lingkungan sekolah.
“Yang ingin kita bangun bukan hanya kemampuan membuat ecobrick. Yang lebih penting adalah perubahan cara berpikir anak-anak terhadap sampah dan lingkungan di sekitar mereka,” kata Herry.
Dia menegaskan, kolaborasi antara desa, sekolah, komunitas lingkungan, dan komunitas budaya juga menjadi bagian penting dari kegiatan. Herry mengatakan, lingkungan tidak dipandang hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, ruang kebudayaan, dan ruang untuk membangun kembali hubungan masyarakat dengan sungai.
“Melalui kegiatan seperti ini, pelajar tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi sebagai calon agen perubahan yang diharapkan mampu membawa kebiasaan baik dari sekolah menuju rumah dan lingkungan masyarakat,” pungkasnya.(*)













Respon (2)