CIANJUREKSPRES.ID – Puluhan pelajar sekolah menengah atas mengikuti kegiatan Living Lab Mikro DAS Cisarua di Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Minggu 4 Oktober 2026. Mereka belajar tentang budaya dan lingkungan selama mengikuti kegiatan tersebut.
Kegiatan yang diikuti 77 orang peserta tersebut diinisasi Komite SUB DAS Cikundul, SISPALA SMA Muhammadiyah Cipanas, SAPALA SMA ZAD, GPA-BENTANG SMA PRIMA TELADAN dan Desa Sindanglaya.
Materi tentang lingkungan dibawakan oleh pegiat lingkungan Herry Trijoko, sementara materi budaya dikupas tuntas oleh budayawan Sunda, Abah Hendra Gunawan.
“Saya tidak mau kalian membersihkan sungai saja. Saya mau kalian berdialog dengan sungai,” ujar Pegiat Lingkungan, Herry Trijoko di hadapan peserta.
Herry menekankan perubahan paling radikal bukan pada teknologi, tapi pada cara berpikir.
“Selama ini kita menganggap sampah adalah sesuatu yang harus dibuang ke sungai. Itu mindset lama. Mindset baru, sampah adalah guru. Sungai adalah cermin. Kalau sungai kotor, berarti pikiran kita yang kotor. Inilah filosofi Takhallus menuju Tajalli – mengosongkan dari kebiasaan buruk, untuk mengisi dengan keberkahan,” jelasnya dalam keterangan tertulisnya.
Konsep Pilah-Olah-Nilai pun diperkenalkan. Sampah tidak lagi dibakar, tapi dipilah (Organik, Plastik, Residu), diolah (menjadi kompos dan biogas), dan menjadi nilai ekonomi.
Sementara itu, Abah Hendra Gunawan menarik peserta ke akar yang lebih dalam, budaya Sunda sebagai sistem konservasi.
“Orang Sunda dulu tidak pernah membuang sampah ke sungai karena sungai itu adalah indung, Ibu. Mana ada anak yang buang kotoran ke pangkuan ibunya? Ritual liwet, ngampar di atas daun, itu bukan sekadar makan, itu adalah manifestasi kesetaraan manusia dengan alam,” tutur Abah.
Herry mengatakan, dalam sesi pertanyaan, salah seorang siswa bertanya tentang geothermal yang sedang marak di Cipanas, apakah akan merusak DAS Cikundul?. Dia pun menjelaskan tentang potensi dan risiko geothermal.
“Pentingnya kajian AMDAL yang jujur, pemantauan kualitas air, dan hak masyarakat untuk bertanya. Dialog itu menjadi bukti Living Lab ini berhasil, anak muda tidak lagi apatis, mereka berani bertanya tentang masa depan tanahnya sendiri,” tuturnya.
Kegiatan Living Lab Mikro DAS Cisarua ditutup dengan doa yang dilanjutkan makan bersama nasi liwet di atas hamparan daun pisang yang membentang di lapangan.
Living Lab Mikro DAS Cisarua membuktikan, menjaga lingkungan tidak harus dengan alat berat, cukup dengan mengubah cara berpikir, dan duduk bersama di Lapang.(*)












