CIANJUREKSPRES.ID – Ratusan guru SMK dan SLB dari berbagai sekolah di Jawa Barat mengikuti Seminar Pendidikan Inklusif bagi Guru SMK dan SLB yang digelar di BBPPMPV Pertanian, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Selasa 11 Agustus 2026.
Seminar tersebut mendorong pendidikan inklusif menjadi bagian penting dalam peningkatan mutu pendidikan vokasi, khususnya di jenjang SMK dan SLB. Pendidikan inklusif dinilai tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebijakan administratif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh anak memperoleh pendidikan bermutu tanpa terkecuali.
Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Pertanian, Joko Ahmad Julifan, mengatakan, pendidikan merupakan hak seluruh anak bangsa tanpa memandang kondisi fisik, intelektual maupun latar belakang ekonomi.
“Pendidikan bermutu untuk semua,” menjadi prinsip yang kembali ditegaskan dalam seminar tersebut.
Menurut Joko, tidak boleh ada anak yang tertinggal dalam memperoleh kesempatan pendidikan dan mengembangkan potensi untuk meraih cita-citanya.
“Tidak ada satu pun anak yang boleh tertinggal dalam perjalanan meraih cita-citanya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa 11 Agustus 2026.
Dia menjelaskan, BBPPMPV Pertanian memiliki peran dalam pengembangan dan penjaminan mutu pendidikan vokasi. Peran tersebut meliputi penyelarasan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia industri, peningkatan kompetensi pendidik, hingga penjaminan mutu sarana dan prasarana pendidikan.
Namun, Joko menilai penjaminan mutu pendidikan vokasi belum lengkap apabila belum menyentuh aspek inklusivitas.
“Kualitas pendidikan vokasi, khususnya di bidang pertanian harus dirasakan secara merata,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan inklusif di lingkungan SMK harus diwujudkan melalui lingkungan belajar yang ramah dan adaptif serta mampu mengakomodasi keragaman profil belajar peserta didik.
Hal tersebut termasuk memberikan kesempatan yang sama bagi siswa berkebutuhan khusus untuk menguasai kompetensi vokasional sehingga memiliki kesiapan memasuki dunia kerja.
Dalam implementasinya, Joko menekankan pentingnya peran Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai Pusat Sumber atau Resource Center. SLB diharapkan dapat menjadi jembatan dalam mendukung keberhasilan penerapan pendidikan inklusif di sekolah umum dan kejuruan.
SLB dapat memberikan dukungan teknis kepada SMK dalam proses identifikasi dan asesmen fungsional siswa, menyediakan media pembelajaran adaptif serta teknologi asistif, hingga menugaskan Guru Pendidikan Khusus (GPK) untuk mendampingi guru SMK dalam merancang Program Pendidikan Individual (PPI).
“Kolaborasi antara SMK dan SLB sebagai pusat sumber akan menciptakan model layanan kombinasi yang komprehensif,” kata Joko.
Melalui kolaborasi tersebut, guru SMK diharapkan semakin kompeten menerapkan pembelajaran berdiferensiasi serta mampu menciptakan manajemen kelas yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi seluruh siswa.
Joko juga mengingatkan para pendidik agar mengimplementasikan nilai SANTUN, yakni Setia, Amanah, Nasionalis, Teladan, Unggul dan Ngemong.
Dia berharap guru tidak hanya berperan sebagai pihak yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu mendampingi, membimbing dan menginspirasi peserta didik dengan menghargai setiap keunikan yang dimiliki.
Menurutnya, penguatan pendidikan inklusif dalam transformasi pendidikan vokasi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab.
“Dari ruang-ruang kelas kita, baik di SMK maupun SLB, akan lahir generasi yang mandiri, berkarakter, dan siap menjawab tantangan masa depan,” pungkasnya.












