Puskesmas Kadupandak Integrasikan Tracing TBC dengan CKG, Jadi Pintu Masuk Perluas Penjaringan Kasus

Puskesmas Kadupandak Integrasikan Tracing TBC dengan CKG, Jadi Pintu Masuk Perluas Penjaringan Kasus
UPTD Puskesmas Kadupandak, Kabupaten Cianjur, meluncurkan terobosan baru dengan menggelar Kegiatan Tracing TBC yang Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).(Dok.Puskesmaa Kadupandak)

CIANJUREKSPRES.ID – Tuberkulosis (TBC) hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan besar bagi kesehatan masyarakat yang memerlukan deteksi aktif serta penanganan cepat. Menanggapi kondisi tersebut, UPTD Puskesmas Kadupandak, Kabupaten Cianjur, meluncurkan terobosan baru dengan menggelar Kegiatan Tracing TBC yang Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Kepala UPTD Puskesmas Kadupandak, Cianjur, Suryana, mengatakan, integrasi ini bertujuan memanfaatkan kegiatan CKG sebagai pintu masuk untuk menemukan masyarakat yang memiliki gejala atau faktor risiko TBC, sehingga dapat segera dilakukan skrining, pemeriksaan diagnostik, pengobatan, dan pemantauan.

“Tracing TBC Terintegrasi CKG di Puskesmas Kadupandak merupakan strategi untuk memperluas penjaringan TBC melalui pelayanan kesehatan yang sudah dimanfaatkan masyarakat. Dengan skrining yang aktif, pemeriksaan yang cepat, tindak lanjut yang tepat, serta pelacakan kontak, diharapkan kasus TBC dapat ditemukan lebih dini dan rantai penularan dapat diputus,” katanya, Selasa 6 Oktober 2026.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sasaran program tersebut diantaranya peserta CKG yang datang ke Puskesmas, dan masyarakat yang memiliki gejala TBC serta kontak serumah/erat dengan pasien TBC.

“Kemudian kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko TBC, dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kadupandak,” ujar Suryana.

Pihak Puskesmas juga mengimbau masyarakat untuk mengenali dan mewaspadai gejala-gejala utama TBC, di antaranya, batuk terus-menerus, terutama lebih kurang selama dua minggu. Lalu batuk berdahak atau dapat disertai darah, dan demam berkepanjangan.

“Gejala lainnya yakni berkeringat pada malam hari, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, nafsu makan menurun, serta mudah lelah dan lemah,” papar Suryana.

Alur Pelacakan Sistematis

Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Kadupandak menerapkan alur tracking yang ketat dan sistematis. Dimulai dari kedatangan peserta CKG, petugas akan melakukan skrining gejala untuk mengidentifikasi terduga TBC.

“Warga yang teridentifikasi memiliki risiko akan langsung diwawancarai, dicatat dalam program, dan menjalani pemeriksaan diagnostik spesimen. Jika hasil pemeriksaan menyatakan positif TBC, pasien akan segera mendapatkan penanganan pengobatan serta pemantauan intensif,” kata Suryana.

Tak hanya fokus pada pengobatan, petugas juga memberikan edukasi preventif secara masif. Masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala TBC, dan membiasakan etika batuk atau bersin yang benar dengan menutup mulut.

“Termasuk menggunakan masker saat bergejala, menjaga ventilasi dan sirkulasi udara di rumah, tidak membuang dahak sembarangan serta menjalani pengobatan sampai tuntas apabila didiagnosis TBC, dan memeriksakan kontak serumah sesuai anjuran petugas kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *