Bisnis  

Produksi Gabah Kering Giling 2026 di Cianjur Ditargetkan 630 Ribu Ton

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHPKP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHPKP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana.(Cianjur Ekspres/Moch Nursidin)

CIANJUREKSPRES.ID – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) pada tahun 2026 mencapai 630.402 ton. Target tersebut masih bersifat sementara dan akan disesuaikan kembali setelah dilakukan konsultasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHPKP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana, mengatakan, target produksi padi tahun 2026 berkorelasi langsung dengan rencana luas panen sekitar 112 ribu hektare. Namun, angka tersebut masih berpotensi mengalami perubahan seiring hasil koordinasi lintas sektor.

“Target produksi GKG padi tahun 2026 kita canangkan sebesar 630.402 ton, dengan target luas panen sekitar 112 ribu hektare. Ini masih angka tentatif karena harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dinas provinsi,” ujarnya kepada Cianjur Ekspres, Senin 5 Januari 2026.

Sementara itu untuk luas tanam padi pada 2026 diproyeksikan mencapai 140 ribu hektare. Luasan tersebut terdiri dari padi sawah sekitar 131 ribu hektare dan padi ladang sekitar 9.000 hektare berdasarkan proyeksi awal penargetan produksi.

Dalam rangka mendukung target tersebut, Dinas TPHPKP telah melakukan sejumlah langkah strategis. Salah satunya dengan melakukan pemutakhiran data luas lahan sawah berdasarkan data Kementerian ATR/BPN yang telah diverifikasi. Berdasarkan data tahun 2025, luas lahan sawah di Kabupaten Cianjur tercatat sebesar 66.086 hektare.

“Data lahan sawah tersebut kemudian kami petakan hingga tingkat kecamatan dan desa, lalu kami identifikasi indeks pertanamannya, apakah IP tiga kali, dua kali, atau satu kali tanam. Dari sana kami lakukan estimasi untuk rencana luas tanam 140 ribu hektare,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga menghitung kebutuhan pupuk subsidi dengan mengacu pada Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) guna memastikan ketersediaan pupuk sesuai dengan target luas tanam yang telah direncanakan.

Upaya lainnya dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan alat dan mesin pertanian, seperti traktor roda dua, traktor roda empat, serta mesin pertanian lainnya untuk mendukung proses pengolahan lahan.

Dinas TPHPKP juga berencana mengajukan bantuan benih padi unggul ke Kementerian Pertanian untuk luasan sekitar 20 ribu hektare. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendongkrak produktivitas petani dan menjaga stabilitas produksi.

“Kami juga mendorong penerapan teknologi tepat guna melalui pendampingan dan penyuluhan kepada petani. Berbagai upaya ini dilakukan agar produksi padi tahun 2026 tetap surplus seperti tahun 2025,” kata Dandan.

Menurut Dandan, tantangan pada 2026 dinilai lebih berat, terutama dalam menjaga capaian produksi agar tidak menurun. Faktor iklim menjadi salah satu variabel penting yang terus dikaji, termasuk kemungkinan perubahan pola curah hujan.

“Mempertahankan surplus itu lebih berat dibanding mengejar peningkatan. Kami masih mengkaji kondisi iklim 2026 dengan mengacu pada data BMKG dan Kementerian Pertanian,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *