Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia, BMKG: Lebih Kering dan Berpotensi Lebih Panjang

Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia, BMKG: Lebih Kering dan Berpotensi Lebih Panjang

CIANJUREKSPRES.ID-  Musim kemarau tahun 2026 di Indonesia diprediksi akan berlangsung dengan karakteristik yang cenderung lebih kering di banyak wilayah. Kondisi ini terjadi setelah fenomena La Niña lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 resmi berakhir pada Februari 2026.

Prakiraan ini disampaikan oleh ahli klimatologi Kukuh Prasetyaningtyas berdasarkan analisis Zona Musim (ZOM) di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut prediksi, sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026. Rinciannya, 114 ZOM atau sekitar 16,3 persen wilayah diperkirakan mulai kemarau pada April, 184 ZOM (26,3 persen) pada Mei, dan 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni 2026. Awal kemarau ini diperkirakan bermula dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian secara bertahap meluas ke wilayah lain di Indonesia.

BMKG mencatat bahwa awal musim kemarau tahun ini cenderung lebih cepat dibandingkan normalnya di banyak daerah. Sebanyak 325 ZOM (46,5 persen) mengalami kemarau lebih awal, sementara 173 ZOM (23,7 persen) lainnya sesuai dengan pola normal.

Dari sisi curah hujan, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari biasanya. Sekitar 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah diperkirakan berada pada kategori bawah normal selama musim kemarau berlangsung.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, yang mencakup sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia. Selain itu, pola puncak kemarau juga cenderung maju dari waktu normal di banyak daerah, yakni sebanyak 410 ZOM (58,7 persen), sementara 142 ZOM (20,3 persen) tetap sesuai pola normal.

BMKG juga memproyeksikan bahwa musim kemarau tahun 2026 berpotensi berlangsung lebih panjang dari biasanya. Sekitar 400 ZOM atau 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai mengantisipasi potensi kekeringan di sejumlah wilayah, terutama terkait ketersediaan air bersih, pertanian, dan kebutuhan irigasi selama periode kemarau berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *