Nelayan Cianjur Selatan Keluhkan Hasil Tangkapan Menurun, BBM hingga Kolam Labuh Jadi Kendala

Ilustrasi - Kapal Nelayan. Ketua Rukun Nelayan Kabupaten Cianjur, Cacu Supriadi mengatakan hasil tangkapan nelayan saat ini masih menurun akibat sejumlah faktor. (Foto: Gemini AI)

CIANJUREKSPRES.ID – Aktivitas nelayan di pesisir selatan Kabupaten Cianjur masih berjalan normal meski hasil tangkapan ikan belum maksimal. Selain belum memasuki musim ikan, nelayan juga dihadapkan pada tantangan cuaca, keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM), hingga minimnya fasilitas tambat perahu.

Ketua Rukun Nelayan Kabupaten Cianjur, Cacu Supriadi mengatakan, kondisi gelombang laut belakangan ini masih relatif aman untuk melaut. Meski begitu, dalam satu bulan biasanya terdapat beberapa hari ketika gelombang tinggi memaksa nelayan menghentikan aktivitasnya.

“Kalau gelombang tinggi biasanya kami tidak melaut. Tapi dalam satu bulan paling sekitar tiga hari gelombang besar. Selebihnya aktivitas nelayan masih berjalan seperti biasa,” katanya, Senin 6 Juli 2026.

Menurutnya, hasil tangkapan nelayan saat ini masih menurun karena belum memasuki musim ikan. Rata-rata nelayan hanya mampu membawa pulang sekitar 15 hingga 20 kilogram ikan dalam sekali melaut.

“Sekarang hasil tangkapan memang masih berkurang karena belum musim ikan keluar. Rata-rata paling 15 sampai 20 kilogram per orang dalam sehari,” katanya.

Cacu menjelaskan, musim ikan biasanya mulai berlangsung ketika kemarau memasuki pertengahan hingga akhir tahun. Pada periode tersebut hasil tangkapan dapat meningkat berkali-kali lipat, terutama untuk ikan layur.

“Kalau sudah musim, satu orang bisa dapat 80 sampai 90 kilogram, bahkan sampai satu kuintal. Jenis ikan yang paling banyak biasanya ikan layur,” jelasnya.

Cacu juga menuturkan kondisi tersebut hampir selalu terjadi setiap tahun karena dipengaruhi siklus musim di perairan selatan.

“Di laut itu memang ada pergantian musim. Ada musim angin selatan, musim tenang, kemudian musim angin barat. Sekarang kami sedang menghadapi musim angin selatan,” katanya.

Selain itu, nelayan juga menghadapi persoalan pasokan BBM yang dinilai belum stabil. Menurut Cacu, stok solar untuk nelayan terkadang tidak mencukupi ketika banyak perahu melaut secara bersamaan.

“Kadang-kadang stok BBM di SPBU tidak cukup untuk nelayan. Kalau cuaca bagus dan banyak perahu berangkat, kebutuhan BBM juga meningkat,” ujarnya.

Cacu menyebut pada kondisi seperti saat ini terdapat sekitar 490 perahu yang aktif melaut setiap hari. Sementara ketika cuaca benar-benar bersahabat, jumlah perahu yang beroperasi dapat mencapai 700 hingga 900 unit.

“Kalau musim tenang hampir semua perahu keluar melaut. Tapi sekarang yang aktif sekitar 490 perahu per hari,” katanya.

Di sisi lain, nelayan juga mengeluhkan biaya operasional yang terus meningkat, sementara harga jual ikan masih fluktuatif sehingga pendapatan sulit menutupi pengeluaran.

“Harga alat-alat melaut naik karena pengaruh BBM, tapi harga ikan tidak menentu. Jadi kadang tidak seimbang antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang didapat,” kata Cacu.

Dia menuturkan, harapan terbesar nelayan saat ini bukan bantuan tunai, melainkan percepatan pembangunan kolam labuh perahu yang dinilai menjadi kebutuhan paling mendesak.

“Yang paling kami butuhkan itu kolam labuh. Mudah-mudahan pembangunan bisa segera dimulai. Kalau kolam labuh sudah bagus, perahu lebih aman dan nelayan bisa lebih leluasa berangkat melaut kapan saja,” katanya.

Dia mengatakan fasilitas kolam labuh yang ada saat ini hanya mampu menampung sekitar 60 perahu, sementara jumlah perahu nelayan di wilayah tersebut mencapai lebih dari 900 unit. Akibatnya, sebagian besar perahu harus ditambatkan di luar kawasan yang aman.

“Karena kapasitasnya terbatas, banyak perahu disimpan di luar. Itu sangat berisiko. Tahun lalu saja saat bencana besar ada sekitar 76 perahu yang hanyut, rusak hingga kehilangan mesin karena tidak ada kolam labuh yang memadai,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *