CIANJUREKSPRES.ID – Di tengah musim kemarau yang mulai melanda Kabupaten Cianjur, debit air Curug Citambur, Kecamatan Pasirkuda, tetap mengalir bak air yang turun dari awan.
Gemuruh air terdengar bahkan sebelum Curug Citambur terlihat dari kejauhan. Semakin mendekat, percikan air yang terbawa angin mulai menyapa wajah. Sementara hawa dingin pegunungan perlahan menggantikan terik matahari yang menyelimuti wilayah tersebut.
Dari atas tebing, aliran air jatuh bebas dari ketinggian 130 meter, seperti membentuk tirai putih yang jatuh bebas di antara hijaunya tumbuhan. Kabut tipis membuat puncak curug sesekali tertutup, menghadirkan pemandangan seolah air mengalir langsung dari awan.
Di saat banyak air terjun mulai kehilangan debit akibat kemarau yang telah berlangsung hampir dua bulan, Curug Citambur justru tetap mengalir. Airnya terus mengalir dari ketinggian yang memberikan kesejukan di setiap tarikan nafas.
Pengelola Curug Citambur dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Yuceu, mengatakan, kondisi tersebut tidak lepas dari banyaknya sumber mata air di kawasan hutan pegunungan yang menjadi hulu Curug Citambur.
“Kalau sekarang debit airnya memang lebih kecil karena sudah hampir dua bulan musim kemarau. Tapi Curug Citambur masih tetap mengalir. Curug-curug lain sudah mulai mengering,” katanya, belum lama ini.
Menurutnya, aliran air Curug Citambur berasal dari sejumlah mata air di kawasan Gunung Halimun Timur II yang kemudian menyatu sebelum jatuh ke tebing Curug Citambur.
“Sumber airnya dari mata air pegunungan. Ada beberapa aliran yang berkumpul menjadi satu. Bahkan sebagian alirannya berasal dari kawasan Gunung Cikukur di perbatasan Cianjur dan Bandung,” katanya.
Tak hanya menjadi daya tarik wisata, air yang mengalir dari Curug Citambur juga menjadi sumber kehidupan ribuan warga di Desa Karangjaya dan Desa Girimukti.
“Kurang lebih sekitar enam ribu kepala keluarga memanfaatkan air dari sini untuk kebutuhan sehari-hari. Karena di wilayah tersebut tidak ada sumber air besar lainnya,” katanya.
Dia menuturkan, keindahan Curug Citambur rupanya tetap menjadi magnet wisatawan. Sejak awal tahun 2026, jumlah kunjungan disebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
“Alhamdulillah sejak Januari kunjungannya meningkat hampir 100 persen. Pendapatan dari tiket saja bisa lebih dari Rp100 juta setiap bulan, belum termasuk wahana dan penginapan. Untuk saat ini, pengunjung lebih banyak dari luar, dari Arab,” katanya.
Meski begitu, akses menuju lokasi masih menjadi keluhan setiap pengunjung. Jalan menuju Curug Citambur masih dikeluhkan wisatawan karena banyak yang rusak.
“Hampir semua pengunjung bilang Curug Citambur sangat indah. Tapi mereka juga berharap akses jalannya bisa segera diperbaiki supaya perjalanan ke sini lebih nyaman,” pungkasnya.












