CIANJUREKSPRES.ID- Siang itu, suasana di sekitar Pasar Cipanas tampak sibuk oleh lalu-lalang kendaraan. Namun, kontras dengan keramaian itu, sudut jembatan penyeberangan tua yang bersebelahan langsung dengan pasar justru terlihat lengang. Saat itu, saya dan ibu sedang tidak bisa menyeberang langsung dikarenakan padatnya arus kendaraan beroda empat dan beroda dua. Kami lalu menaiki satu per satu anak tangga jembatan yang sudah lama tidak diinjak. Rasanya, ketika melangkah naik, semua memori masa kecil berputar kembali di kepala di mana dahulu jembatan ini sangat rapi, bersih, aman, dan nyaman, ditemani udara pegunungan yang sejuk.
Tetapi kini, ketika dewasa dan menginjaknya lagi, jembatan penyeberangan orang yang menjulur hingga pintu masuk lantai dua Pasar Cipanas ini justru memunculkan banyak kekhawatiran. Mengapa? Karena banyak bau tak sedap di mana-mana, oknum pemabuk yang tidak bertanggung jawab, pengemis di jalur jembatan, hingga tunawisma yang merebahkan tubuhnya di sana. Keadaannya sangat jauh berbeda dengan masa lalu.
Jembatan yang menjadi penghubung antara bahu jalan di depan Pasar Cipanas, Cianjur, sudah dibangun sejak tahun 2000-an; berdiri sebagai fasilitas publik yang sangat dibanggakan dan diandalkan oleh masyarakat. Dibangun sebagai jalur penghubung yang aman, jembatan ini dulunya menjadi urat nadi mobilitas warga untuk menyeberang jalanan yang padat tanpa rasa khawatir, tetapi setelah terjadi kebakaran di Pasar Cipanas pada tahun 2007, jembatan tersebut diperbaiki ulang bersamaan dengan pasar. Semenjak diperbaiki ulang, banyak masyarakat yang menggunakannya lagi dengan sangat baik. Jembatan tersebut sangat berguna untuk masyarakat sekitar, seperti anak-anak, orang tua lanjut usia (lansia), dan beberapa orang yang tidak bisa menyeberang.
Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi mulia itu perlahan pudar; jembatan kini tampak terbengkalai, kotor, dan kumuh. Lebih memprihatinkan lagi, area jembatan kerap disalahgunakan oleh oknum untuk tempat berkumpul orang mabuk, tunawisma, hingga pengemis. Akibat alih fungsi dan penelantaran ini, warga, terutama para lansia, anak-anak, dan pejalan kaki, kini justru ketakutan dan enggan menggunakannya.
Sayangnya, saat ini jembatan itu sudah jarang orang pakai karena merasa terganggu dengan banyaknya oknum tidak bertanggung jawab seperti orang mabuk yang membuat jembatan menjadi berbau tidak sedap dan beberapa tunawisma atau pengemis yang berkumpul tanpa pengawasan bisa memicu tindak kriminalitas (seperti pelecehan verbal kepada pejalan kaki atau tempat nongkrong yang meresahkan). Warga menjadi merasa cemas setiap kali harus lewat area tersebut. Ketika fasilitas publik dibiarkan terbengkalai begitu saja tanpa ada perbaikan setelah bertahun-tahun, hal itu bisa memicu hilangnya kepercayaan warga terhadap kepedulian pemerintah atau pihak berwenang terhadap fasilitas rakyat kecil.
Dengan keadaan infrastruktur yang keadaannya seperti sekarang ini sangat penting peran pemerintah, pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat salah satu fasilitas yang sudah dibangun dan sempat menjadi fasilitas yang sangat bermanfaat untuk warga sekita. Fasilitas yang dibangun dari uang rakyat justru mangkrak dan membahayakan. Perbaikan jembatan ini adalah bentuk kehadiran nyata di tengah warganya.
Perbaikan ini bersifat wajib; jangan sampai menunggu ada korban jiwa, baik lansia yang tertabrak di jalan raya karena takut naik jembatan, maupun insiden kriminalitas di atas jembatan yang kumuh, pemerintah sibuk turun tangan membereskannya. Perbaikan ini juga harus dibarengi dengan penertiban pada oknum yang tidak bertanggung jawab itu agar kawasan pasar Cipanas kembali bersih, tertib, dan nyaman dipandang mata.












