CIANJUREKSPRES.ID – Nama Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein tengah menjadi perhatian publik. Politikus dari Partai Gerindra yang menjabat sebagai Bupati Purwakarta periode 2025–2030 itu ramai diperbincangkan setelah lagu ciptaannya menuai kontroversi dan kritik dari berbagai kalangan.
Lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” dinilai mengandung lirik yang bias gender dan dianggap merendahkan perempuan. Kontroversi tersebut memicu perdebatan di ruang publik hingga mendapat respons dari tokoh politik, budayawan, dan pegiat hak perempuan.
Biodata Om Zein
- Nama lengkap: Saepul Bahri Binzein
- Nama populer: Om Zein
- Tempat/Tanggal lahir: 14 Agustus 1972
- Usia: 53 tahun (2026)
- Partai politik: Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
- Jabatan: Bupati Purwakarta ke-10
- Masa jabatan: 2025–2030
Om Zein resmi dilantik sebagai Bupati Purwakarta pada 20 Februari 2025 di Istana Negara bersama kepala daerah hasil Pilkada Serentak 2024.
Karier Politik
Sebelum menjadi Bupati Purwakarta, Om Zein aktif di dunia politik sebagai kader Partai Gerindra. Ia dikenal aktif membangun komunikasi dengan masyarakat dan mengusung berbagai program pembangunan daerah.
Kemenangannya pada Pilkada Purwakarta 2024 mengantarkannya menjadi Bupati Purwakarta untuk periode 2025–2030.
Kontroversi Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”
Nama Om Zein kembali menjadi sorotan setelah lagu ciptaannya berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” menuai kritik.
Lirik lagu tersebut menyinggung pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, hingga keguguran. Sejumlah pihak menilai isi lagu tersebut memperkuat stereotip negatif terhadap perempuan dan dianggap tidak sejalan dengan nilai kesetaraan gender.
Kontroversi itu memicu berbagai respons, termasuk kritik dari anggota DPR RI Atalia Praratya, yang menilai lirik lagu tersebut melanggengkan budaya patriarki dan tidak mencerminkan nilai-nilai budaya Sunda. Kritik juga datang dari sejumlah budayawan Sunda.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Menanggapi polemik yang berkembang, Om Zein menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa lagu tersebut diadaptasi dari puisi yang ditulisnya pada tahun 2020, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Menurut Om Zein, puisi tersebut merupakan refleksi pribadi atas perjalanan hidupnya di masa lalu dan tidak dimaksudkan untuk merendahkan perempuan ataupun menyinggung kelompok tertentu.
Meski demikian, polemik terkait lagu tersebut masih menjadi perbincangan publik dan memunculkan diskusi mengenai sensitivitas karya seni terhadap isu gender serta tanggung jawab pejabat publik dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat.












