Lagi Tidur, Pria di Cibeber Tertimpa Rumah Roboh Sampai Terluka

Bangunan rumah milik warga Kampung Cibinong, Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur roboh akibat sudah lapuk, Rabu (8/7/2026) sore. (Foto: Istimewa)

CIANJUREKSPRES.ID – Nasib nahas menimpa Budi (32), warga Kampung Cibinong, Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Saat sedang tertidur di dalam rumah, bangunan yang telah lama lapuk tiba-tiba ambruk dan menimpanya hingga menyebabkan luka.

Diketahui, peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 8 Juli 2026, sekitar pukul 15.00 WIB. Korban yang saat itu berada seorang diri di dalam rumah sempat terjebak di bawah reruntuhan bangunan sebelum akhirnya dievakuasi warga.

Selain itu, Budi juga tertimpa atap, genting, dan material bangunan, serta berteriak meminta pertolongan sambil menahan rasa sakit hingga akhirnya warga berdatangan untuk mengevakuasinya.

Budi mengaku sempat mendengar suara beberapa saat sebelum rumahnya roboh. Awalnya dia mengira suara tersebut berasal dari bambu yang sedang dibelah.

“Terdengar bunyi ‘toroktok-toroktok’. Saya kira ada orang membelah bambu. Tiba-tiba rumah langsung ambruk dan menimpa saya,” katanya, pada Sabtu 11 Juli 2026.

Akibatnya, dia mengalami dislokasi dan lebam pada lengan kiri, memar di bagian wajah, serta luka di punggung akibat terkena material bangunan.

“Sekarang masih terasa sakit. Hari Rabu nanti saya diminta kontrol lagi ke puskesmas,” ucapnya.

Sementara itu, ibu korban, Ai (50), mengatakan rumah yang mereka tempati memang sudah lama mengalami kerusakan. Kondisi bangunan bahkan telah miring ke belakang sehingga terpaksa disangga menggunakan kayu agar tidak roboh.

Menurutnya, keterbatasan ekonomi membuat keluarga tidak mampu memperbaiki rumah tersebut. Sejak berpisah dengan suaminya, Ai tinggal bersama ketiga anaknya dan mengandalkan bantuan sosial serta penghasilan dari pekerjaan serabutan di kebun dan sawah.

“Rumahnya memang sudah rusak sejak lama. Saya selalu khawatir akan roboh, ternyata benar-benar kejadian,” katanya.

Ai mengaku pernah diingatkan agar tidak lagi menghuni rumah tersebut karena kondisinya membahayakan. Namun, karena tidak memiliki tempat tinggal lain, keluarganya tetap bertahan tinggal di sana.

“Tidak punya rumah lain, jadi terpaksa tetap tinggal di sini. Setiap malam sebenarnya selalu waswas kalau rumah ini roboh,” tuturnya.

Saat ini, Ai bersama ketiga anaknya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang berada tidak jauh dari lokasi. Seluruh perabotan rumah tangga dan kebutuhan sehari-hari ikut rusak tertimbun reruntuhan.

“Kalau anak yang paling besar kadang tidur di musala karena rumah ibu saya juga tidak cukup menampung kami semua,” katanya.

Dia berharap ada bantuan untuk membangun kembali rumahnya agar keluarganya bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.

“Saya tidak enak terus menumpang di rumah ibu. Mudah-mudahan ada bantuan supaya rumah kami bisa dibangun lagi,” harap Ai.

Kepala Desa Cimanggu, M. Rohman Budiman, mengatakan, korban langsung mendapat penanganan medis setelah berhasil dievakuasi warga.

Pemerintah desa bersama masyarakat juga telah bergotong royong membersihkan puing-puing rumah serta menyalurkan bantuan darurat berupa sembako dan kasur kepada keluarga korban.

“Untuk sementara keluarga Ibu Ai tinggal di rumah orang tuanya yang lokasinya tidak jauh dari rumah yang roboh,” katanya.

Rohman menjelaskan rumah tersebut merupakan salah satu rumah tidak layak huni yang telah beberapa kali diusulkan untuk mendapatkan bantuan perbaikan. Namun sampai saat ini usulan tersebut belum terealisasi.

“Rumah ini sebenarnya sudah beberapa kali kami ajukan untuk program bantuan rumah tidak layak huni, tetapi belum terealisasi. Kami berharap setelah kejadian ini bisa menjadi prioritas untuk segera dibangun kembali,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *