CIANJUREKSPRES.ID- Tim Kementerian Agama yang didukung relawan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) serta Lembaga Amil Zakat (LAZ) terus berupaya menyalurkan bantuan hingga menjangkau wilayah-wilayah yang sulit diakses. Salah satu lokasi yang berhasil ditembus adalah Desa Lubuk Siduk, Kabupaten Aceh Tamiang.
Lubuk Siduk menjadi salah satu kawasan terdampak banjir terparah dan paling terisolasi di Aceh Tamiang. Banjir menyebabkan kerusakan berat pada infrastruktur desa. Dari seluruh bangunan yang ada, hanya Masjid Lubuk Siduk yang masih berdiri kokoh dan kini difungsikan sebagai tempat pengungsian warga.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Bimas Islam Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, menyampaikan bahwa tim baru dapat menjangkau desa tersebut setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Menurutnya, Lubuk Siduk merupakan wilayah dengan kondisi infrastruktur yang rusak parah dan baru bisa diakses beberapa hari terakhir.
Setibanya di lokasi, tim berdialog dengan kepala desa setempat untuk mendengarkan kondisi dan kebutuhan warga. Bantuan yang disalurkan meliputi generator listrik beserta bahan bakarnya, kendaraan pengangkut air bersih, toren air, perlengkapan memasak, popok bayi, serta berbagai kebutuhan dapur lainnya.
Selain itu, tim juga menyalurkan bantuan untuk Masjid Besar Al Huda berupa karpet, sajadah, dan perlengkapan kebutuhan harian bagi para pengungsi. Waryono menuturkan bahwa dalam waktu dekat, warga juga membutuhkan peralatan pembersih untuk menangani rumah-rumah yang terendam lumpur akibat banjir, namun tidak hanyut terbawa arus.
Ia menambahkan bahwa Baznas telah mendirikan Dapur Umum Tanggap Bencana di wilayah Aceh Tamiang guna memenuhi kebutuhan konsumsi warga terdampak. Untuk penanganan jangka panjang, menurutnya diperlukan sinergi antara pemerintah, Baznas, dan LAZ dalam menyediakan hunian bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Tidak hanya menyalurkan bantuan logistik, pemerintah bersama Baznas dan LAZ juga memberikan pendampingan psikososial atau trauma healing kepada warga terdampak. Kegiatan ini sebelumnya telah dilakukan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar saat kunjungannya ke Aceh pada 18–20 Desember 2025.
Waryono menjelaskan bahwa trauma healing juga dilakukan di MIN 5 yang mengalami kerusakan akibat banjir. Anak-anak pengungsi diajak bermain dan bernyanyi, serta diberikan hadiah sebagai upaya untuk mengurangi beban psikologis yang mereka alami.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat membantu memulihkan semangat dan mengurangi kesedihan para korban banjir, khususnya anak-anak yang terdampak secara langsung oleh bencana.












