CIANJUREKSPRES.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur mencatat sebanyak 38 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode Juli hingga awal September 2026. Dalam kejadian tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan laporan yang telah diterima BPBD, ditambah tiga titik kebakaran yang masih dalam penanganan petugas di lapangan.
“Selama memasuki musim kekeringan, periode Juli sampai Agustus, laporan yang sudah kita terima sekitar 35 kejadian. Ditambah yang tadi tiga titik, berarti 38,” kata Samudra, Selasa 8 September 2026.
Dari 38 kejadian tersebut, satu orang warga Kampung Cipetir RT 02/04, Desa Cipetir, Kecamatan Cibeber, meninggal dunia setelah membakar lahan.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, kronologis satu orang meninggal dunia tersebut berawal ketika korban membakar lahan. Namun, api menjalar dengan cepat. Korban kemudian berupaya memadamkan api, tetapi justru terjebak,” jelasnya.
Menurut Samudra, sebagian besar kejadian karhutla bukan disebabkan faktor alam, melainkan kelalaian manusia atau human error. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat membakar sampah sembarangan.
Kondisi tersebut semakin berisiko saat musim kemarau karena vegetasi seperti alang-alang berada dalam kondisi kering sehingga mudah terbakar. Ditambah tiupan angin yang cukup kencang, api dapat dengan cepat merembet ke lahan di sekitarnya.
“Rata-rata diakibatkan unsur masyarakat, kesengajaan dalam membakar sampah sembarangan. Ketika musim kemarau, masih ada masyarakat yang membakar sampah tanpa diawasi, akhirnya merembet ke lahan,” katanya.
Selain membakar sampah, pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar juga menjadi salah satu penyebab karhutla. Menurut Samudra, sebagian petani memilih cara tersebut untuk menekan biaya pengolahan lahan.
Namun, kondisi angin yang cukup kencang, khususnya di sejumlah wilayah Cianjur Selatan dan pesisir, membuat bara api mudah terbawa dan menyebar ke lahan di sekitarnya.
“Ketika membakar lahan pertanian untuk membuka lahan, mereka tidak berpikir ada angin cukup kencang. Akhirnya bara api bertebaran dan menyebar ke beberapa lahan hingga cakupan kebakarannya cukup luas,” jelasnya.
Samudra menambahkan, terdapat pula sejumlah kejadian kebakaran yang dipicu oleh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang membakar sampah. Meski demikian, kasus tersebut hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan kejadian karhutla.
“Persentasenya sangat kecil. Kebanyakannya human error,” tegasnya.
Menurut Samudra, kejadian di Kecamatan Cibeber yang menewaskan seorang petani menjadi salah satu bukti bahwa pembukaan lahan dengan cara dibakar memiliki risiko besar. Korban diduga terjebak setelah api yang membakar lahan dengan cepat menyebar akibat tiupan angin.
“Dia sedang membuka lahan, membersihkan lahan pertanian kemudian dibakar. Karena ada angin cukup besar, akhirnya dia terjebak di tengah,” katanya.
Ia menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi peringatan bagi masyarakat bahwa membuka lahan dengan cara membakar tidak hanya berisiko terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan jiwa.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kabupaten Cianjur telah mengirimkan surat yang ditandatangani Bupati Cianjur kepada para camat. Para camat diminta memetakan wilayah yang memiliki potensi kebakaran tinggi serta meningkatkan edukasi dan kewaspadaan masyarakat.
“Untuk mengantisipasi bertambahnya karhutla, BPBD Cianjur telah mengirimkan surat yang ditandatangani Bupati Cianjur kepada para camat. Para camat diminta memetakan wilayah yang memiliki potensi kebakaran tinggi sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat,” katanya.
Samudra juga mengimbau masyarakat tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering.
Selain meningkatkan risiko karhutla, musim kemarau juga berpotensi menyebabkan krisis air bersih. Karena itu, masyarakat diminta menghemat dan memaksimalkan penggunaan sumber air yang tersedia.
“Kalau masyarakat membutuhkan air, bisa menghubungi BPBD melalui call center 112 atau berkirim surat kepada kita. Nanti kita bisa mendistribusikan air kepada masyarakat,” pungkasnya.












