Opini  

Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Tanpa Perubahan

Oleh: Ali Mursyid, S.Hum, M.Pd

ALI Mursyid (dok. pribadi)

ADA PERTANYAAN yang sebaiknya kita ajukan kepada diri sendiri sebelum Lebaran tiba, ketika ketupat belum tersaji dan baju baru belum dipakai: dibanding Ramadan tahun lalu, apa yang sungguh-sungguh berubah dalam diri saya?

Bukan perasaannya. Bukan niatnya. Tapi perilaku nyata yang bisa diamati, yang masih ada tiga puluh hari setelah Ramadan selesai. Bagi banyak orang, jawabannya akan terasa tidak nyaman.

Kita mengenal tipe ini dengan baik karena kita sendiri sering menjadi bagian darinya. Puasanya penuh, tarawihnya tidak bolong, sedekahnya rutin. Tapi dua minggu setelah Lebaran, shalat kembali bolong, lisan kembali tajam, dan Al-Quran kembali berdebu di rak yang sama.

Bukan karena munafik. Bukan karena tidak serius. Tapi karena kita mengira bahwa menjalankan Ramadan dengan baik secara otomatis menghasilkan perubahan, padahal perubahan tidak pernah bekerja dengan cara itu. Ramadan menyediakan kondisi terbaik untuk berubah. Tapi ia tidak bisa berubah untuk kita.

Setiap tahun kita membuat janji yang sama dengan kemasan yang berbeda. Ramadan ini akan jadi titik balik. Dan setiap tahun kita keluar dari bulan suci dengan tangan yang hampir kosong, sambil menghibur diri bahwa Ramadan tahun depan akan lebih baik.

Ramadan berikutnya tidak dijamin datang. Dan bahkan jika datang, ia akan menemukan kita dalam kondisi yang persis sama jika kita tidak mengubah cara kita memperlakukan bulan ini sekarang.

James Clear dalam Atomic Habits mencatat sesuatu yang sederhana namun sering diabaikan: identitas kita dibentuk bukan oleh tujuan yang kita tetapkan, melainkan oleh sistem yang kita jalani setiap hari. Seseorang yang ingin menjadi pembaca Al-Quran tidak cukup berniat. Ia perlu meletakkan mushaf di tempat yang terlihat, membuka halaman yang sama setiap pagi, dan melakukannya bahkan ketika tidak ingin.

Ramadan adalah tiga puluh hari sistem itu berjalan secara alami. Tugas kita hanya satu: memastikan sistem itu tidak berhenti ketika Ramadan berhenti.

Kesalahan yang paling sering diulang adalah ambisi yang terlalu besar. Ingin sekaligus menjadi lebih sabar, lebih dermawan, lebih rajin shalat malam, lebih menjaga lisan, lebih hadir untuk keluarga. Semua sekaligus. Hasilnya tidak ada yang bertahan karena tidak ada yang benar-benar diprioritaskan.

Pilih satu. Yang paling mendesak, yang paling realistis, yang paling terasa perlu. Rawat satu itu dengan sepenuh hati melewati batas Ramadan, melewati euforia Lebaran, melewati normalnya kehidupan yang kembali seperti sedia kala.

Ramadan yang berhasil bukan yang paling banyak ibadahnya. Ia yang paling dalam bekasnya. Bekas itu tidak terlihat di hari terakhir puasa. Ia terlihat di hari ke-60, ke-90, ketika suasana Ramadan sudah lama pergi namun satu kebiasaan baik itu masih bertahan, diam-diam membentuk versi diri kita yang lebih baik.

Ramadan bukan museum kenangan tahunan. Ia laboratorium perubahan yang hanya berguna jika kita membawa sesuatu keluar darinya. Wallahu a’lam.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *