CIANJUREKSPRES.ID- Ada banyak hal dalam hidup yang kita persiapkan dengan sungguh-sungguh. Kita belajar untuk menghadapi ujian, bekerja untuk menyongsong masa depan, menabung untuk hari tua, bahkan membuat berbagai rencana untuk kehidupan anak-anak kita. Manusia, agaknya, memang makhluk yang hidup dengan harapan tentang masa depan. Kita selalu ingin mengetahui apa yang akan terjadi esok dan, jika mungkin, menyiapkan diri untuk menghadapinya.
Namun ada satu masa depan yang paling pasti, tetapi justru sering kita tempatkan jauh dari kesadaran: kematian.
Kita tahu kematian pasti datang, tetapi kita tidak tahu kapan. Kita mengetahui bahwa setiap perjalanan memiliki ujung, tetapi sering menjalani hidup seakan-akan jalan yang kita tempuh tidak akan pernah berakhir. Barangkali karena itulah kematian tidak perlu dipahami sebagai sekadar peristiwa biologis. Ia adalah peristiwa eksistensial. Kematian memaksa manusia bertanya: setelah semua yang saya kejar, siapakah sesungguhnya saya? Dan, ke manakah saya kembali?
Dalam tradisi Islam, pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti manusia. Ia justru hendak membangunkan kesadaran. Hidup menjadi lebih bermakna ketika manusia mengetahui bahwa dirinya tidak sekadar berjalan tanpa arah.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن البراءِ بن عازب رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((المُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ في القَبْرِ يَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا الله وَأنّ مُحَمّدًا رَسُول الله، فذلك قوله تَعَالَى: {يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَة})) [إبراهيم: 27]. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
قال ابن عباس رضي الله عنهما: من دام على الشهادة في الدنيا يلقِّنه الله تعالى إياها في قبره.
Dari Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhumā, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda:
“Seorang Muslim apabila ditanya di dalam kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Swt dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah firman Allah Ta‘ālā: ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.’”
Muttafaq ‘alaih
(HR. Bukhari & Muslim)
Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata:
“Barang siapa senantiasa teguh di atas syahadat ketika di dunia, Allah Ta‘ālā akan menuntunnya untuk mengucapkannya di dalam kuburnya.”
Hadis ini menarik untuk direnungkan bukan semata karena berbicara tentang pertanyaan di alam kubur. Lebih dari itu, ia menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara apa yang kita jalani hari ini dan siapa kita kelak. Kehidupan akhirat, dalam pengertian tertentu, tidak datang sebagai sesuatu yang sama sekali asing. Ia merupakan kelanjutan dari perjalanan batin manusia.
Apa yang terus kita cintai, kita bawa dalam hati. Apa yang terus kita lakukan, perlahan menjadi kebiasaan. Dan apa yang menjadi kebiasaan, lambat laun membentuk watak serta kepribadian kita.
Karena itu, ketika Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa orang yang senantiasa hidup di atas syahadat akan dituntun Allah untuk mengucapkannya di dalam kubur, kita dapat menangkap sebuah pesan yang amat dalam: manusia akan memasuki masa depannya dengan membawa apa yang selama ini ia tanam dalam dirinya.
Jawaban di alam kubur, dengan demikian, bukan semata persoalan hafalan.
Seseorang dapat menghafal banyak jawaban, tetapi belum tentu jawaban itu hidup dalam dirinya. Kita semua mungkin hafal kalimat tauhid. Namun pertanyaan yang lebih penting ialah: sejauh mana kalimat itu membentuk cara kita menjalani hidup?
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Swt, dan Muhammad adalah utusan Allah.”
Kalimat ini, jika direnungkan, sesungguhnya membawa manusia kepada kebebasan yang sangat mendasar. Manusia dibebaskan dari keharusan untuk mempertuhankan apa pun selain Allah. Harta tidak perlu menjadi tuhan. Jabatan tidak perlu menjadi tuhan. Popularitas tidak perlu menjadi tuhan. Bahkan ketakutan terhadap penilaian manusia tidak perlu menguasai seluruh hidup kita.
Bukankah banyak manusia justru kehilangan kebebasannya karena terlalu takut kepada sesuatu yang sebenarnya tidak abadi?
Ada yang takut kehilangan harta, sehingga sepanjang hidupnya hanya menjadi penjaga hartanya. Ada yang takut kehilangan kedudukan, sehingga tidak lagi berani mengatakan kebenaran. Ada yang terlalu haus akan pujian, sehingga dirinya berubah sesuai dengan selera orang banyak. Secara lahiriah mereka tampak bebas, tetapi secara batin sesungguhnya terbelenggu.
Tauhid datang untuk membebaskan manusia dari belenggu semacam itu.
Allah Swt berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah Swt meneguhkan orang- orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”Dan Allah menyesatkan orang- orang yang dzalim dan Allah Swt berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Ibrahim : 27)
Ayat ini menggunakan kata yang sangat penting: **meneguhkan**. Hati manusia ternyata tidak selalu teguh. Ia dapat berubah. Hari ini kita yakin, besok kita ragu. Hari ini kita bersemangat, besok kita lelah. Hari ini kita merasa dekat kepada Allah, tetapi besok kesibukan dunia membuat kita lupa.
Manusia memang makhluk yang bergerak. Batin kita pun bergerak.
Karena itulah, iman tidak dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang selesai. Ia perlu dipelihara, diperbaharui, dan dihidupkan. Keteguhan bukan berarti manusia tidak pernah jatuh. Keteguhan justru dapat berarti kemampuan untuk selalu menemukan jalan pulang setelah tersesat.
Dalam hidup, kita semua mungkin pernah menjauh. Bukan hanya menjauh secara fisik, tetapi menjauh secara batin. Salat tetap dilakukan, tetapi hati tidak hadir. Doa tetap dibaca, tetapi kehidupan tidak berubah. Syahadat tetap diucapkan, tetapi kita masih mudah diperbudak oleh kecemasan dunia.
Di situlah kita memerlukan kejujuran kepada diri sendiri.
Kejujuran untuk bertanya: sebenarnya apa yang paling saya cintai? Apa yang paling saya takutkan? Apa yang sesungguhnya saya jadikan pusat dalam hidup ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu nyaman. Tetapi manusia sering justru menemukan dirinya melalui pertanyaan yang tidak nyaman. Kesadaran beragama bukan hanya kesediaan untuk memperoleh jawaban, tetapi juga keberanian untuk terus bertanya kepada diri sendiri.
Maka doa berikut terasa begitu manusiawi:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa itu adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan pertolongan. Kita dapat merencanakan banyak hal, tetapi tidak sepenuhnya mampu mengendalikan hati kita sendiri. Karena itu, memohon keteguhan kepada Allah bukanlah tanda kelemahan. Justru ia menunjukkan kesadaran tentang keterbatasan manusia.
Mungkin selama ini kita terlalu sering meminta hidup yang mudah. Padahal, yang lebih kita perlukan adalah hati yang teguh. Hidup tanpa kesulitan barangkali mustahil. Tetapi dengan hati yang memiliki arah, kesulitan dapat menjadi jalan pendewasaan.
Kematian pun demikian. Ia memang misteri, tetapi bukan berarti harus menjadikan hidup kehilangan harapan. Kesadaran akan kematian justru seharusnya membuat kita lebih menghargai kehidupan. Karena waktu terbatas, kita belajar mencintai dengan lebih tulus. Karena semua akan ditinggalkan, kita belajar tidak menggenggam dunia terlalu erat. Karena kita akan kembali kepada Allah, kita belajar menjadikan setiap perjalanan sebagai jalan pulang.
Pada akhirnya, mungkin seluruh kehidupan ini adalah persiapan panjang sebelum sebuah pertanyaan datang. Pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan hafalan. Ia harus dijawab oleh seluruh kehidupan.
Jawaban itu disiapkan ketika kita jujur saat tidak ada yang melihat. Ketika kita memilih kebaikan meski tidak mendapatkan pujian. Ketika kita memohon ampun setelah menyadari kesalahan. Ketika kita tetap kembali kepada Allah meskipun berkali-kali merasa lemah.
Jadi, sebelum pertanyaan itu datang, marilah kita belajar menjalani jawabannya.
Sebab barangkali yang kita perlukan kelak bukanlah kemampuan untuk mencari kata-kata, melainkan pertolongan Allah agar seluruh hidup kita telah mengajarkan hati untuk mengenal kepada siapa ia akan kembali.
Wallahu ‘alamu












