CIANJUREKSPRES.ID — Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Isfhan Taufik Munggaran, mengumpulkan relawan lintas agama dan etnis dalam kegiatan penguatan Ideologi Pancasila yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bertajuk “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat” di Ballroom Hotel Cordela Suite, Cianjur, Rabu 29 Juli 2026.
“Kami mengumpulkan relawan dari enam agama, perwakilan delapan kelompok etnis, serta adik-adik dari SMAN 1 Cianjur,” ujar Isfhan kepada wartawan.
Dalam kegiatan tersebut, BPIP menekankan krusialnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah fenomena menurunnya moralitas anak bangsa. Namun Isfhan menilai, jargon saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan tindakan nyata sehari-hari.
“Banyak yang teriak ‘Saya Pancasila’ di sekolah tiap Senin, butir-butirnya selalu disebutkan, akan tetapi nilainya semakin ditinggalkan,” tegasnya.
Oleh karena itu, Isfhan menekankan pentingnya menggalakkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah bangsa secara konsisten, dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan masyarakat.
“Agar budaya Pancasila ini tidak terhenti, juga tidak semata diucapkan saja, melainkan dijalankan oleh masing-masing dari kita hingga menjadi contoh bagi yang lain,” katanya.
Melalui pembentukan relawan dari berbagai unsur ini, masyarakat diharapkan bisa saling mengingatkan dalam kebaikan lintas generasi. Hal ini juga menjadi upaya membentengi generasi muda agar tidak terkontaminasi paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila.
Isfhan menyayangkan maraknya krisis moral yang semakin mengkhawatirkan dan menyerang anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Beberapa fenomena nyata yang disoroti antara lain, tawuran pelajar, kekerasan seksual dan ruda paksa yang terjadi pada anak di bawah umur, pergeseran budaya ketimuran, hingga penyimpangan sosial seperti LGBT yang dinilai sudah masuk dalam kategori ancaman bahaya nonmiliter.
“Kasus-kasus penyimpangan seperti LGBT kini sudah masuk dalam ancaman bahaya nonmiliter. Ini bukti bahwa sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mulai diabaikan. Jika hubungan dengan Tuhan saja disepelekan, tentu urusan kemanusiaan juga akan dikesampingkan,” pungkasnya.












