CIANJUREKSPRES.ID – Harga beras di Pasar Muka Cianjur belum menunjukkan penurunan meski harga gabah di tingkat petani mulai merosot. Pedagang mengaku masih menjual stok lama yang dibeli saat harga gabah berada di level tertinggi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, harga beras berbagai jenis masih mengalami kenaikan dibanding beberapa waktu lalu. Beras campuran kini dijual Rp14.400 per kilogram dari sebelumnya Rp14.200 per kilogram. Beras medium naik dari Rp14.300 menjadi Rp14.500 per kilogram, sementara beras premium kini menyentuh Rp15.000 per kilogram dari sebelumnya Rp14.600 per kilogram.
Salah seorang pedagang beras di Pasar Muka, Aep Sudrajat (39), mengatakan, harga gabah memang sudah mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kondisi tersebut belum berdampak pada harga beras di tingkat pedagang.
Menurutnya, beras yang saat ini dipasarkan masih berasal dari gabah yang dibeli ketika harga mencapai sekitar Rp700.000 per kuintal.
“Harga gabah sekarang memang sudah turun, tapi kami masih menjual stok lama yang dibeli saat harga gabah masih tinggi. Jadi belum bisa langsung menurunkan harga beras. Kalau stok lama sudah habis, baru pembelian berikutnya mengikuti harga gabah yang sekarang,” katanya pada Senin 27 Juli 2026.
Aep menyebutkan harga gabah saat ini diperkirakan telah turun menjadi di bawah Rp650.000 per kuintal. Penurunan tersebut mulai terjadi menjelang akhir Juli hingga memasuki Agustus.
“Informasinya dari petani, harga gabah sekarang sudah di bawah Rp650.000 per kuintal. Tapi kami belum membeli lagi karena stok lama masih tersedia,” katanya.
Dia menjelaskan keuntungan yang diperoleh pedagang juga tidak besar. Untuk beras premium, harga beli dari pemasok berkisar Rp14.700 hingga Rp14.800 per kilogram, sedangkan harga jual ke konsumen hanya sekitar Rp15.000 per kilogram.
“Keuntungan bersih paling sekitar Rp100 sampai Rp200 per kilogram,” jelas Aep.
Selain harga gabah, biaya operasional juga menjadi faktor yang membuat harga beras belum bisa diturunkan. Salah satunya adalah kenaikan ongkos angkut.
“Dulu biaya angkut satu ton beras sekitar Rp20.000, sekarang naik menjadi Rp30.000 per ton. Jadi biaya distribusi ikut bertambah,” kata Aep.
Menurutnya, pedagang baru bisa menyesuaikan harga setelah seluruh stok lama habis dan digantikan dengan pasokan baru yang dibeli menggunakan harga gabah terkini.
“Kami tidak mungkin langsung menurunkan harga karena modal yang dipakai masih modal lama. Sekali belanja bisa dua ton beras, kalau penjualan sedang ramai baru habis sekitar satu minggu,” tuturnya.
Di sisi lain, tingginya harga beras justru berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Aep mengaku jumlah pembeli berkurang sehingga omzet pedagang ikut menyusut.
“Kalau dulu keuntungan per hari bisa Rp2 juta sampai Rp2,5 juta. Sekarang paling sekitar Rp1 juta. Mudah-mudahan stok lama cepat habis supaya harga beras bisa turun lagi dan pembeli kembali ramai,” pungkasnya.












