BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis, Sejumlah Wilayah Masuk Status Waspada

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis, Sejumlah Wilayah Masuk Status Waspada

CIANJUREKSPRES.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian II Juni 2026 untuk sejumlah wilayah di Indonesia. Peringatan ini diberikan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi berkurangnya curah hujan yang dapat berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga aktivitas masyarakat.

Berdasarkan data BMKG, sejumlah kabupaten dan kota di enam provinsi masuk dalam kategori Waspada terhadap potensi kekeringan meteorologis. Sementara itu, belum terdapat wilayah yang masuk kategori Siaga maupun Awas pada periode pemantauan kali ini.

Provinsi Bali menjadi salah satu daerah dengan wilayah terdampak paling banyak. Daerah yang masuk kategori waspada meliputi Kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Klungkung, Tabanan, serta Kota Denpasar.

Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, status waspada diberlakukan untuk Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo.

Sementara itu, di Jawa Tengah, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan adalah Kabupaten Klaten, Purworejo, Sukoharjo, dan Wonogiri.

Untuk wilayah Jawa Timur, BMKG mencatat enam daerah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis, yaitu Kabupaten Blitar, Madiun, Magetan, Ponorogo, Probolinggo, dan Tulungagung.

Di Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Bima menjadi satu-satunya wilayah yang masuk dalam kategori waspada.

Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, potensi kekeringan terpantau lebih luas, mencakup Kabupaten Ende, Kupang, Lembata, Manggarai Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sikka, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, serta Kota Kupang.

Kekeringan meteorologis merupakan kondisi berkurangnya curah hujan secara signifikan dalam periode tertentu dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dapat memicu penurunan ketersediaan air dan berdampak pada berbagai sektor kehidupan apabila berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha pertanian, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini guna mengurangi risiko dampak kekeringan selama musim kemarau 2026.

Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG sebagai acuan dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *