Bupati Cianjur Soroti Alih Fungsi Lahan di Dataran Tinggi Picu Risiko Banjir

Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian saat memimpin apel kegiatan Jumat Bersih (Jumsih) di kawasan Puncak, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Jumat 8 Mei 2026. (Foto: CIANJUR EKSPRES / Dede Sandi Mulyadi)

CIANJUREKSPRES.ID – Pemerintah Kabupaten Cianjur menilai alih fungsi lahan di wilayah dataran tinggi Cianjur menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko banjir di wilayah hulu.

Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, mengatakan, fenomena banjir yang mulai terjadi di wilayah dataran tinggi menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena sebelumnya wilayah tersebut dikenal relatif aman dari genangan.

“Di wilayah dataran tinggi mulai terjadi banjir, dan ini tentu sangat mengkhawatirkan,” kata Wahyu disela kegiatan Jumat Bersih (Jumsih) di kawasan Puncak, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Jumat 8 Mei 2026.

Menurutnya, hasil kajian pemerintah daerah menunjukkan perubahan fungsi lahan dari tanaman keras menjadi perkebunan sayuran berdampak terhadap menurunnya daya serap tanah.

Bupati menjelaskan, lahan yang sebelumnya ditanami kopi dan teh kini banyak dialihfungsikan menjadi lahan pertanian sayuran. Kondisi itu dinilai memicu meningkatnya limpasan air saat hujan deras sehingga memperbesar potensi banjir.

“Alih fungsi lahan dari tanaman keras menjadi perkebunan sayuran menjadi salah satu faktor paling menonjol dalam kajian tersebut,” jelasnya.

Pemkab Cianjur, lanjut dia, juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menangani persoalan tersebut, termasuk melalui evaluasi tata ruang dan pengelolaan kawasan hulu.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperbaiki tata kelola lingkungan serta menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah dataran tinggi Cianjur.

“Kami berharap langkah yang dilakukan pemerintah provinsi dapat memperbaiki tata ruang dan pengelolaan kawasan sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat Kabupaten Cianjur,” katanya.

Ia menegaskan, pembangunan dan aktivitas ekonomi harus tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan agar risiko bencana dapat ditekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *