Viral Ritual ‘Celup Rezeki’ di Cianjur, Ini Penjelasan Padepokan

Sebuah video yang menampilkan ritual pemandian yang disebut ‘celup rezeki’ viral di media sosial dan memicu perdebatan warganet.(tangkapan layar)

CIANJUREKSPRES.ID – Sebuah video yang menampilkan ritual pemandian yang disebut ‘celup rezeki’ viral di media sosial dan memicu perdebatan warganet, dan muncul tu

Dalam video yang beredar, terlihat seorang pria tengah berendam di sebuah kolam, sementara pria lainnya memegang kepala orang tersebut sambil melantunkan doa. Narasi dalam unggahan tersebut menyebutkan bahwa ritual pemandian itu dapat mendatangkan kekayaan dan pasangan hidup.

Ritual yang viral tersebut diketahui berlangsung di Padepokan Lembah Dzikir yang berlokasi di Kampung Salahuni, Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur.

Menanggapi polemik tersebut, pimpinan Padepokan Lembah Dzikir, H. Nasrudin atau yang akrab disapa Kang Jimam, membantah tudingan adanya praktik sesat di padepokannya. Dia menegaskan, ritual pemandian yang viral itu merupakan bagian dari riyadhoh atau pelatihan spiritual yang berlandaskan ajaran agama.

“Yang ada di video itu sebenarnya adalah mandi tobat, bukan ritual untuk mencari kekayaan. Itu bagian dari rangkaian riyadhoh yang harus dijalani jemaah,” ujar Jimam belum lama ini.

Dia menjelaskan, narasi yang beredar di media sosial dinilainya tidak utuh dan menimbulkan salah tafsir di masyarakat.

“Intinya mandi itu untuk menyucikan diri. Kalau orang bersih, sehat, pikirannya jernih, tentu bisa bekerja lebih baik, berusaha lebih maksimal. Soal jodoh pun begitu, kalau tidak mandi dan tidak merawat diri, siapa yang mau,” katanya.

Jimam menyebutkan, seluruh aktivitas spiritual di padepokannya merujuk pada keilmuan para ulama terdahulu dan telah dijalankan sejak tahun 2008.

“Jemaah yang datang ke sini wajib menjalani puasa tobat, mandi tobat, dan membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali selama tiga hari. Semua ada dasar keilmuannya, dan sejak 2008 tidak pernah ada yang merasa disesatkan,” katanya.

Selain itu, padepokan tersebut juga memberikan pendampingan psikologis bagi para jemaah yang datang dengan berbagai persoalan hidup.

“Kebanyakan yang datang itu orang-orang yang sedang terpuruk, kehilangan semangat hidup, bahkan ada yang bangkrut. Setelah menjalani riyadhoh dan diberikan pencerahan, biasanya mereka kembali memiliki motivasi untuk bangkit,” katanya.

Jimam menegaskan pihaknya tidak pernah memungut biaya dari jemaah yang mengikuti kegiatan di padepokannya.

“Tidak ada pungutan apa pun. Jemaah malah kami beri makan selama mondok. Banyak yang datang itu orang tidak mampu, jadi bagaimana mau menipu? Di sini kami hanya mengajarkan penyucian diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *