CIANJUREKSPRES.ID – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i mengajak para santri meneruskan perjuangan para kiai dan pendahulu bangsa dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mendorong inovasi, serta memperkuat akhlak mulia. Ia menegaskan, perjuangan santri tidak berakhir setelah kemerdekaan Indonesia, melainkan terus berlanjut melalui peran dan kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.
“Jika 81 tahun yang lalu santri menguatkan negeri dengan mengangkat senjata, maka hari ini santri wajib menguatkan negeri dengan penguasaan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, kekuatan inovasi, serta kedalaman akhlak mulia,” ujar Wamenag saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Santri 2026 tingkat Provinsi Jawa Barat di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Kaplongan, Indramayu, Kamis 22 Oktober 2026.
Wamenag menegaskan bahwa peringatan Hari Santri merupakan momentum untuk mengingat kembali kontribusi pesantren dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia mengulas peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, ketika para kiai dari berbagai pesantren menyatukan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya penjajah.
Menurutnya, sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dilepaskan dari peran santri dan kiai, termasuk dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia.
“Karena itu, saya mengatakan penulisan sejarah kemerdekaan Indonesia itu belum lengkap kalau di dalamnya tidak dituliskan dengan huruf yang jelas peran serta pondok pesantren dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.
Wamenag mengatakan bahwa semangat perjuangan tersebut harus terus diwariskan kepada generasi santri. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini tantangannya adalah mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, penguasaan teknologi, dan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Anakku sekalian, hari ini bahwa perjuangan itu sudah berubah, tetapi tidak berakhir,” tuturnya.
Penguatan Pesantren dan Perhatian Negara
Dalam kesempatan tersebut, Wamenag juga menyoroti komitmen pemerintah dalam memperkuat kelembagaan pesantren. Salah satunya melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.
Menurut Wamenag, kebijakan tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat pengakuan dan dukungan negara terhadap pesantren, tujuh tahun setelah diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
“Langkah bersejarah ini bukan sekadar bentuk kecintaan, melainkan bentuk rekognisi, afirmasi, dan pelembagaan komitmen negara agar pesantren dan santri mendapat ruang fasilitasi penuh untuk tumbuh berdaya dan memimpin peradaban,” ungkapnya.
Wamenag juga menekankan pentingnya menghadirkan lingkungan pendidikan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri. Komitmen tersebut antara lain diwujudkan melalui program RANA atau Ruang Aman dan Nyaman bagi Anak, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, ruang publik, maupun ruang digital.
“Sebagai lembaga pendidikan agama, pesantren harus menjadi tempat yang paling aman, nyaman, dan ramah bagi para santri untuk menimba ilmu,” katanya.
Selain perlindungan anak, Wamenag menyampaikan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pemenuhan kebutuhan gizi santri melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saat ini Presiden memberikan perhatian penuh, bahkan saya sebagai Wakil Menteri Agama dipanggil khusus untuk memastikan agar tidak ada pesantren di tanah air ini yang belum menerima manfaat Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.
Dorong Kewirausahaan dan Pesantren Mendunia
Lebih lanjut, Wamenag mengingatkan bahwa pesantren memiliki peran yang luas, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong pesantren untuk membekali para santri dengan kemampuan kewirausahaan agar mampu berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat.
“Pesantren juga diharapkan mampu melahirkan entrepreneur di bidang-bidang pertanian, di bidang peternakan, di bidang kelautan, dan lain sebagainya,” tuturnya.
Wamenag turut menyampaikan adanya dukungan pembiayaan usaha bagi santri melalui perbankan milik negara. Dukungan tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan bagi lulusan pesantren untuk mengembangkan usaha mandiri.
Di samping penguatan ekonomi, Wamenag menekankan pentingnya menjaga hubungan antara nilai-nilai keislaman dan semangat kebangsaan. Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, serta memiliki kecintaan terhadap tanah air.
“Dan yang terlebih penting, memastikan jiwa keislaman yang tidak terpisahkan dengan semangat patriotisme,” tegasnya.
Kepada para santri, Wamenag berpesan agar terus mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjaga persaudaraan, serta menghormati dan mendoakan orang tua. Ia juga berharap para lulusan pesantren mampu berkontribusi dalam pembangunan Indonesia sekaligus menyebarkan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat dunia.
“Ada tagline yang baru, Pesantren Indonesia Harus Mendunia,” serunya.
“Pesantren Indonesia harus mendunia!” lanjut Wamenag yang disambut semangat para santri.
Mengakhiri amanatnya, Wamenag mengajak seluruh peserta upacara untuk mendoakan keselamatan dan kemajuan Indonesia, termasuk kesehatan serta kekuatan Presiden Prabowo Subianto dalam memimpin bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Ia juga mengajak para santri mendoakan masyarakat terdampak bencana di berbagai daerah agar segera pulih dan bangkit.(Kemenag.go.id)












