CIANJUREKSPRES.ID – Polres Cianjur menyalurkan bantuan sembako kepada para pekerja pabrik tahu di Desa Langensari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, yang terdampak berhentinya aktivitas produksi akibat tingginya harga kedelai.
Diketahui, belasan pekerja pabrik tahu tersebut terdampak berhentinya aktivitas produksi akibat melonjaknya harga bahan baku yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18.000 per dolar.
Bantuan belasan sembako itu diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang kehilangan mata pencaharian setelah sejumlah pabrik pengolahan kedelai terpaksa menghentikan operasionalnya.
Kapolres Cianjur, AKBP Akhmad Alexander Yurikho Hadi, mengatakan, kegiatan tersebut berawal dari informasi yang beredar di media massa terkait banyaknya pabrik tahu yang vakum beroperasi akibat kenaikan harga bahan baku kedelai.
“Dari pemberitaan yang kami terima, banyak pabrik pengolahan kedelai di Kecamatan Karangtengah yang tidak lagi berproduksi. Dampaknya tentu kepada para pekerja yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan,” katanya pada Sabtu 6 Juni 2026.
Menurutnya, bantuan tersebut merupakan hasil gotong royong seluruh personel Polres Cianjur yang dikumpulkan secara sukarela menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026.
“Ini bukan bantuan dari Kapolres, tetapi bantuan dari seluruh personel Polres Cianjur. Kami melakukan urunan atau semacam celengan bersama untuk membantu meringankan beban masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi,” katanya.
Dia menegaskan, bantuan yang diberikan memang tidak dapat menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi para pekerja maupun pelaku usaha. Namun setidaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
“Kami tidak bermaksud menyelesaikan masalah. Kalau memang bisa membantu tentu alhamdulillah. Niat kami sederhana, yakni meringankan beban saudara-saudara kami yang terdampak kondisi ekonomi saat ini,” ucapnya.
Kapolres berharap harga kedelai dapat segera kembali stabil sehingga pabrik-pabrik yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat bisa kembali beroperasi.
“Mudah-mudahan harga komoditas kedelai segera kembali ekonomis sehingga pabrik yang sudah hampir dua bulan berhenti ini dapat kembali berproduksi. Jika produksi berjalan lagi, roda ekonomi masyarakat juga akan kembali berputar,” katanya.
Sementara itu, pemilik pabrik tahu, Taufik Munandar, mengungkapkan usahanya sudah hampir dua bulan tidak beroperasi akibat tingginya harga kedelai yang tidak sebanding dengan permintaan pasar.
“Sudah hampir dua bulan tutup. Harga bahan baku terus naik, sementara permintaan tahu justru menurun. Kalau dipaksakan produksi, kerugiannya akan semakin besar,” ujarnya.
Dia menjelaskan, sebelum berhenti beroperasi, pabriknya membutuhkan sekitar 1,5 kuintal kedelai setiap hari untuk produksi. Saat itu harga kedelai telah mencapai Rp10.500 per kilogram.
Menurutnya, sebelum produksi dihentikan, terdapat 14 orang pekerja yang menggantungkan penghasilan dari pabrik tersebut.
“Terakhir ada 14 karyawan yang bekerja di sini. Setelah pabrik berhenti, mereka tentu terdampak karena tidak lagi bekerja seperti biasanya,” katanya.
Taufik mengatakan, bantuan sembako dari Polres Cianjur akan dibagikan kepada seluruh pekerja, termasuk mereka yang saat ini sudah tidak lagi bekerja di pabrik tersebut.
“Bantuan ini akan dibagikan kepada karyawan. Baik yang masih menganggur maupun yang sudah mendapatkan pekerjaan lain tetap akan kami berikan karena ini memang untuk mereka,” katanya.
Dia mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan Polres Cianjur kepada para pekerja dan pelaku usaha yang sedang mengalami kesulitan.
“Alhamdulillah sangat membantu dan meringankan. Kami berterima kasih karena sudah peduli dan melihat kondisi kami. Mudah-mudahan ke depan pabrik bisa kembali berproduksi dan para karyawan bisa bekerja lagi,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada kenaikan harga kedelai impor mulai menekan industri tahu di Kabupaten Cianjur. Kondisi tersebut membuat biaya produksi melonjak, keuntungan menipis, hingga menyebabkan satu pabrik tahu di Desa Langensari, Kecamatan Karangtengah, terpaksa menghentikan operasionalnya.












