CIANJUREKSPRES.ID- Film Alas Roban mengisahkan perjalanan hidup Sita, seorang ibu tunggal yang selama ini bertahan dalam keterbatasan ekonomi di Pekalongan.
Kesempatan baru datang ketika ia diterima bekerja di sebuah rumah sakit di Semarang. Demi memulai hidup yang lebih baik, Sita mengajak putrinya, Gendis, yang memiliki keterbatasan penglihatan, menempuh perjalanan menggunakan bus malam terakhir yang melintasi jalur legendaris dan dikenal angker, Alas Roban.
Perjalanan yang awalnya berjalan normal berubah mencekam ketika bus yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok di tengah hutan. Sejak peristiwa itu, Gendis mulai mengalami perubahan aneh.
Ia kerap mendengar suara-suara asing yang tak bisa dijelaskan, menggambar simbol-simbol misterius tanpa ia pahami, dan mengalami kerasukan hampir setiap malam, seolah ada sosok yang perlahan mengambil alih tubuhnya.
Dalam kondisi putus asa, Sita meminta bantuan sepupunya, Tika, serta Anto, seorang sopir ambulans yang mengenal betul mitos dan kisah kelam Alas Roban.
Dari mereka, Sita mengetahui bahwa gangguan yang dialami Gendis bukanlah hal biasa. Putrinya menjadi sasaran Dewi Raras, sosok gaib penuh amarah yang merasa dikhianati akibat sebuah janji ritual lama yang tak pernah diselesaikan.
Demi menyelamatkan Gendis, Sita harus menghadapi masa lalu yang selama ini ia hindari. Bersama Bu Emah, seorang penjaga spiritual, Sita kembali ke Alas Roban untuk menjalani ritual terakhir yang penuh risiko. Waktu terus berjalan, sementara malam keramat semakin dekat, dan kegagalan ritual bisa berujung pada hilangnya Gendis selamanya.
Alas Roban menyuguhkan horor yang berpadu dengan drama keluarga, mengangkat kisah pengorbanan seorang ibu, trauma masa lalu, serta mitos kelam yang berakar kuat dalam kepercayaan masyarakat.
Film ini membawa penonton menyusuri teror perlahan yang mencekam, sekaligus mempertanyakan harga yang harus dibayar untuk sebuah janji yang dilupakan.












