CIANJUREKSPRES.ID – Seorang petani lanjut usia asal Kampung Panglayungan, Desa Kertamukti, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, ditemukan meninggal dunia di area kebun dalam kondisi telah membusuk. Korban berinisial A (70) diduga telah meninggal sekitar lima hari sebelum akhirnya ditemukan warga, Senin 13 Juli 2026, sore.
Kapolsek Sindangbarang, Iptu Dadang Arifin mengatakan, jasad korban pertama kali ditemukan oleh dua warga yang melintas di kawasan kebun sekitar pukul 17.00 WIB. Keduanya curiga setelah mencium aroma menyengat yang berasal dari semak-semak.
“Saat dicek, ternyata ditemukan sesosok mayat. Kedua saksi kemudian melaporkan penemuan tersebut kepada ketua RT, yang selanjutnya diteruskan ke perangkat desa dan pihak kepolisian,” kata Dadang kepada wartawan, Selasa 14 Juli 2026.
Menurutnya, korban diketahui memiliki kebiasaan pergi seorang diri ke kebun untuk mencari kayu bakar maupun hasil kebun. Meski keluarga telah berulang kali melarang karena usia lanjut dan kondisi korban yang mulai pikun, kebiasaan tersebut tetap dilakukan.
“Korban memang hampir setiap hari pergi ke kebun seorang diri. Keluarga sebenarnya sudah sering mengingatkan agar tidak pergi sendirian, namun korban tetap berangkat,” ujarnya.
Setelah menerima laporan, petugas gabungan dari Polsek Sindangbarang, Koramil, pemadam kebakaran, perangkat desa, serta warga setempat melakukan proses evakuasi jenazah.
Dari hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Polisi memperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar lima hari sebelum ditemukan berdasarkan kondisi jenazah yang sudah membusuk.
“Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya bekas luka maupun tanda kekerasan. Dugaan sementara korban meninggal karena sebab alami,” jelasnya.
Pihak keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Setelah proses identifikasi selesai, jenazah langsung diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
“Keluarga telah membuat surat pernyataan penolakan autopsi dan menerima kejadian ini sebagai takdir,” pungkas Dadang.












