Peretas Manfaatkan AI untuk Menyerang 1.200 Situs Web, Lebih dari 100 Berhasil Dibobol

Peretas Manfaatkan AI untuk Menyerang 1.200 Situs Web, Lebih dari 100 Berhasil Dibobol
Peretas Manfaatkan AI untuk Menyerang 1.200 Situs Web, Lebih dari 100 Berhasil Dibobol

CIANJUREKSPRES.ID- Serangan siber dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) semakin menjadi perhatian setelah sebuah kampanye peretasan berhasil menyusup ke lebih dari 100 situs web perusahaan. Dalam operasi tersebut, para pelaku memanfaatkan agen AI untuk mengotomatisasi proses pencarian celah keamanan hingga menjalankan serangan tanpa banyak campur tangan manusia.

Laporan VietnamPlus yang diterbitkan pada 22 Oktober 2026 menyebutkan, sejumlah perusahaan yang terdampak antara lain produsen peralatan pertanian Deere, perusahaan peralatan rumah tangga SharkNinja, serta produsen mesin asal Amerika Serikat, Cummins.

Hal yang menjadi sorotan adalah kemampuan para peretas menyerahkan sebagian besar tahapan serangan kepada agen AI. Teknologi tersebut digunakan untuk mencari target, mendeteksi kelemahan sistem, dan mengeksploitasi celah keamanan secara otomatis.

Berdasarkan laporan perusahaan keamanan siber NorForge, peneliti Snorre Fagerland menemukan sekitar 20 versi platform AI sumber terbuka bernama Cairn yang tidak terlindungi dan beredar di internet sejak awal Oktober. Kondisi tersebut memungkinkan aktivitas para pelaku dipantau, termasuk cara mereka memanfaatkan agen AI untuk menjalankan serangan selama berjam-jam.

Pada akhir pekan sebelum laporan diterbitkan, kampanye tersebut dilaporkan telah menargetkan lebih dari 1.200 situs web. Dari jumlah itu, lebih dari 100 situs berhasil disusupi. Serangan yang berhasil rata-rata membutuhkan waktu sekitar 23 jam untuk menemukan dan mengeksploitasi kerentanan.

Fagerland memperkirakan biaya operasional kampanye tersebut mencapai sekitar 5.000 dolar AS untuk penggunaan model AI. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan diperkirakan sekitar 50 dolar AS untuk setiap intrusi yang berhasil.

Sejumlah perusahaan yang terdampak telah memberikan tanggapan. Deere menyatakan bahwa persoalan keamanan tersebut telah ditangani dan tidak ditemukan indikasi bahwa informasi sensitif telah diakses oleh pihak tidak berwenang.

Sementara itu, SharkNinja mengonfirmasi bahwa insiden tersebut memengaruhi sebuah situs web independen yang menyediakan informasi dukungan produk. Perusahaan menyatakan ancaman itu telah berhasil dikendalikan.

Cummins juga tengah menyelidiki dugaan penyusupan yang menyasar situs web yang dikelola oleh penyedia layanan pihak ketiga. Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum diketahui secara pasti berapa banyak data yang mungkin telah diakses secara ilegal.

Menurut Fagerland, tujuan para pelaku tidak selalu sama. Sebagian diduga memanfaatkan AI untuk mencuri informasi kartu kredit, sedangkan pelaku lainnya berupaya menyalahgunakan dana yang tersimpan di bursa mata uang kripto.

Dalam salah satu kasus yang diamati, agen AI tidak berhenti ketika gagal menemukan celah keamanan pada aplikasi publik milik perusahaan target. Sistem tersebut justru melanjutkan pemindaian ke infrastruktur lain yang berkaitan dengan perusahaan.

Dari proses itu, agen AI menemukan sebuah dasbor yang dapat diakses melalui internet. Kelemahan pada dasbor tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menjalankan perintah berbahaya pada server.

Temuan ini menunjukkan bahwa agen AI dapat memperluas pencarian target ketika jalur serangan awal tidak berhasil. Kemampuan tersebut berpotensi meningkatkan jangkauan serangan sekaligus memperbesar risiko terhadap sistem yang terhubung.

Ancaman serupa sebelumnya juga pernah dilaporkan oleh perusahaan keamanan siber Gambit Security. Pada awal Agustus, perusahaan tersebut menemukan kelompok pemeras yang menggunakan perangkat berbasis AI untuk menyusup ke tujuh organisasi.

Pada September, Gambit Security kembali mencatat kampanye serangan berbasis AI yang berdampak terhadap 25 perusahaan dan menyebabkan sedikitnya 600.000 catatan kartu kredit dicuri.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan AI dalam kejahatan siber terus berkembang. Otomatisasi memungkinkan pelaku menjalankan operasi dengan biaya relatif rendah, mempercepat pencarian kelemahan sistem, serta mengurangi kebutuhan keterlibatan langsung manusia.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi perusahaan dan pengelola infrastruktur digital untuk memperkuat perlindungan sistem, membatasi akses ke layanan internal, serta melakukan pemantauan keamanan secara berkelanjutan guna mengantisipasi serangan yang semakin otomatis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *