CIANJUREKSPRES.ID- Tantrum merupakan perilaku yang cukup umum terjadi pada anak, terutama pada usia balita. Kondisi ini biasanya ditandai dengan menangis keras, berteriak, marah, berguling-guling, memukul, melempar barang, atau menolak melakukan sesuatu.
Tantrum sering kali membuat orang tua bingung dan kewalahan. Namun, perilaku tersebut tidak selalu berarti anak sedang mencari perhatian atau sengaja membuat orang tua kesal. Pada usia tertentu, anak masih belajar mengenali, mengendalikan, dan menyampaikan emosinya.
Salah satu penyebab anak mengalami tantrum adalah kesulitan menyampaikan keinginan atau perasaan. Anak mungkin sudah memiliki keinginan tertentu, tetapi kemampuan berbahasanya belum cukup untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Akibatnya, rasa frustrasi dapat ditunjukkan melalui tangisan atau ledakan emosi.
Rasa lelah dan lapar juga dapat memicu tantrum. Anak yang kurang tidur atau belum makan dalam waktu cukup lama cenderung lebih mudah rewel dan sulit mengendalikan emosinya. Karena itu, pola tidur dan waktu makan yang teratur dapat membantu mengurangi kemungkinan tantrum.
Selain itu, anak dapat mengalami tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi. Misalnya, anak ingin membeli mainan, menonton televisi lebih lama, atau bermain dengan sesuatu yang dilarang orang tua. Ketika mendapatkan penolakan, anak mungkin belum mampu menerima rasa kecewa tersebut sehingga meluapkannya melalui tantrum.
Perubahan lingkungan atau rutinitas juga dapat menjadi pemicu. Anak yang harus berpindah tempat, bertemu banyak orang, berada di lingkungan ramai, atau mengalami perubahan jadwal dapat merasa tidak nyaman. Kondisi tersebut terkadang muncul dalam bentuk perilaku rewel atau tantrum.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah terlalu banyak rangsangan. Suara yang berisik, keramaian, cahaya, aktivitas yang terlalu padat, atau terlalu banyak instruksi dalam waktu bersamaan dapat membuat anak kewalahan.
Saat anak mengalami tantrum, orang tua sebaiknya berusaha tetap tenang. Hindari membalas dengan teriakan atau hukuman fisik karena hal tersebut dapat membuat situasi semakin sulit. Pastikan anak berada di tempat yang aman dan berikan waktu agar emosinya mereda.
Setelah anak mulai tenang, orang tua dapat membantu anak mengenali perasaannya. Misalnya dengan mengatakan, “Kamu kecewa karena tidak boleh bermain lagi, ya.” Cara tersebut dapat membantu anak belajar mengenali emosi dan secara bertahap mengungkapkannya dengan kata-kata.
Orang tua juga dapat memberikan pilihan sederhana agar anak merasa memiliki kendali. Misalnya, “Kamu mau memakai baju yang biru atau yang putih?” Pilihan seperti ini dapat membantu mengurangi konflik dalam situasi tertentu.
Tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan kemampuan emosional anak. Meski demikian, orang tua tetap perlu memperhatikan pola dan intensitasnya. Jika tantrum sangat sering, berlangsung lama, membahayakan anak atau orang lain, atau disertai perubahan perilaku lain yang mengkhawatirkan, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
Dengan memahami penyebabnya, orang tua dapat menghadapi tantrum bukan hanya sebagai perilaku yang harus dihentikan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membantu anak belajar mengelola emosi dan berkomunikasi dengan lebih baik.












