CIANJUREKSPRES.ID – Warisan usaha keluarga yang telah bertahan selama 47 tahun terpaksa harus menelan pil pahit dan mengambil keputusan drastis demi kelangsungan hidup. UMKM Kerupuk Galunggung di Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, kini resmi menghentikan produksi kerupuk mentah.
Langkah ini diambil sebagai strategi bertahan di tengah badai lonjakan harga tepung tapioka yang mencekik leher para perajin tradisional.
Produsen Kerupuk Galunggung, Nasrul Jamil (31), mengungkapkan bahwa badai inflasi bahan baku memaksanya mengubah total model bisnis yang telah dirintis keluarganya sejak 1979 silam.
Alih-alih memproduksi kerupuk mentah, usaha mereka kini hanya berfokus pada proses penggorengan dan pengemasan. Bahan baku kerupuk mentah kini harus dipasok dari pabrik keluarga mereka yang berlokasi di Bandung.
“Pengaruhnya sangat masif. Dua bulan lalu harga tepung tapioka masih di angka Rp1,2 juta per kuintal, kini meroket menembus Rp1,7 juta per kuintal,” ungkap Nasrul saat dikonfirmasi, Selasa 3 November 2026.
Kondisi ini menciptakan dilema besar bagi Nasrul dan timnya. Sempat mencoba mengecilkan ukuran kerupuk untuk menekan biaya produksi, mereka justru mendapat penolakan dari para pedagang. Pasar menuntut ukuran kerupuk yang tetap standar, sehingga pengelola terjebak dalam kebingungan menentukan harga jual yang tidak merugikan namun tetap bisa diterima pembeli.
Tak hanya tepung tapioka, meroketnya harga minyak goreng dan plastik kemasan semakin menambah beban operasional. Akibatnya, stok kerupuk di tingkat warung mulai menumpuk karena daya beli dan perputaran barang yang melambat.
Meski dihimpit kesulitan, Nasrul tetap berusaha melindungi nasib sekitar 20 orang pekerjanya. Mereka tetap bertahan dengan ritme kerja yang disesuaikan. Pada pagi hari, sebagian pekerja berkeliling menggunakan sepeda motor untuk memasarkan dan mendistribusikan kerupuk ke warung-warung.
Memasuki siang hari, mereka beralih tugas menggoreng dan mengemas sekitar 10 karung kerupuk mentah (masing-masing seberat 25 kg) yang didatangkan dari Bandung.
Selama puluhan tahun berdiri, Nasrul mengakui bahwa usaha ini murni digerakkan oleh modal mandiri tanpa pernah tersentuh bantuan permodalan dari pemerintah.
Menutup perbincangan, Nasrul mengirimkan pesan keras bagi para pembuat kebijakan. Dia mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera turun tangan menstabilkan harga bahan pokok industri.
“Kami hanya berharap pemerintah bisa menstabilkan harga tepung tapioka, minyak, dan plastik. Kenaikan yang terus melonjak tanpa kendali ini bukan hanya memukul kami, tapi juga merembet ke seluruh rantai usaha yang bergantung pada bahan-bahan tersebut,” tutupnya.












