CIANJUREKSPRES.ID – Selama musim kemarau 2026, petani jagung di Kampung Bala Pulang RT 06/RW 04, Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, mengalami kerugian hingga tak mampu membayar upah pekerja.
Kekeringan yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Cianjur membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.
Salah satu petani yang terdampak adalah Ukon Suganda (65), petani sekaligus penggarap lahan di Kampung Bala Pulang, Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara. Akibat kekeringan, hasil panen jagungnya merosot hingga menyebabkan kerugian. Bahkan, dia mengaku tak mampu membayar upah pekerja yang telah membantu menggarap lahannya.
“Bersyukur sekarang sudah mulai turun hujan, tapi air dari pegunungan untuk kebutuhan masyarakat dan lahan pertanian masih minim,” kata Ukon kepada wartawan, Minggu 4 Oktober 2026.
Selama musim kemarau sumber mata air yang berasal dari pegunungan masih ada, namun debitnya minim. Sehingga kebutuhan untuk memenuhi lahan jagung berkurang hampir 50 persen.
“Sejak dari awal musim kemarau, lahan garapan yang ditanami jagung kurang mendapatkan pasokan air. Akibatnya pertumbuhan tanaman jagung jadi lambat. Biasanya, dalam waktu tiga sampai empat bulan sudah panen, tapi sekarang jadi lima bulan,” tutur Ukon.
Menurutnya, keterbatasan pasokan air membuat hasil panen jagung di lahan seluas kurang dari satu hektare tidak maksimal. Bahkan, produksinya menurun hingga sekitar 50 persen dibandingkan panen biasanya.
“Dari hasil panen itu hanya cukup untuk mengembalikan modal awal sebesar Rp 3 juta untuk pupuk, benih saja. Kadang-kadang upah untuk buruh tani pun tak cukup,” ujar Ukon.
Dia menambahkan, selama musim kemarau, ia dan para petani penggarap belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur untuk meminimalisir dampak kekeringan.
“Tidak pernah ada bantuan dari Pemkab Cianjur, paling hanya bantuan pasokan air saja dari Perumdam Tirta PDAM Cianjur beberapa waktu lalu,” pungkasnya












