BMKG Laksanakan Rukyat Hilal Penentu Awal Ramadhan 1447 H

BMKG Laksanakan Rukyat Hilal Penentu Awal Ramadhan 1447 H

CIANJUREKSPRES.ID- Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi, serta pergerakan Bumi bersama Bulan mengitari Matahari, memungkinkan manusia untuk menentukan sistem waktu secara akurat. Dalam Islam, sistem peredaran Bulan menjadi dasar penanggalan Hijriah yang sangat penting dalam menentukan berbagai ibadah, seperti awal tahun Hijriah, awal Ramadhan, Syawal, Idulfitri, dan Iduladha.

Penentuan awal bulan Hijriah didasarkan pada posisi Bulan terhadap Matahari dan Bumi. Untuk memastikan ketepatan penentuan tersebut, pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki tugas memberikan pelayanan data tanda waktu, termasuk dalam penentuan awal bulan Hijriah. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Memasuki bulan Ramadhan 1447 Hijriah, BMKG melalui Stasiun Geofisika Bandung kembali melaksanakan kegiatan rukyat hilal sebagai upaya mendukung penetapan awal puasa secara ilmiah dan akurat.

Peran BMKG dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah

Sebagai lembaga pemerintah, BMKG berperan penting dalam menyediakan data astronomi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal bulan. Data tersebut meliputi waktu konjungsi, tinggi hilal, elongasi, serta waktu terbenam Matahari dan Bulan.

Melalui pengamatan yang terstandar, BMKG memastikan bahwa proses penentuan awal Ramadhan dilakukan secara objektif, berbasis sains, dan dapat dipertanggungjawabkan. Data ini kemudian disampaikan kepada Kementerian Agama dan pihak terkait sebagai bahan pengambilan keputusan.

Proses Rukyat Hilal Berbasis Teknologi

Dalam pelaksanaan rukyat hilal, BMKG memanfaatkan teleskop terkomputerisasi yang dipadukan dengan teknologi informasi modern. Alat ini dilengkapi dengan detektor cahaya yang mampu merekam tingkat kecerlangan hilal secara detail.

Saat pengamatan berlangsung, teleskop akan secara otomatis mengikuti pergerakan Bulan di ufuk Barat. Data hasil pengamatan langsung dikirim ke server pusat BMKG untuk disimpan dan disebarluaskan secara daring melalui laman resmi hilal.bmkg.go.id.

Dengan dukungan teknologi ini, proses rukyat menjadi lebih akurat, transparan, dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Lokasi Pelaksanaan Rukyat Hilal

Dalam rangka penentuan awal Ramadhan 1447 H, BMKG Stasiun Geofisika Bandung melaksanakan rukyat hilal pada Selasa, 17 Februari 2026 di Observatorium Albiruni Universitas Islam Bandung (UNISBA), bekerja sama dengan Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat dan Badan Hisab Rukyat Daerah.

Selanjutnya, pada Rabu, 18 Februari 2026, pengamatan dilakukan di Observatorium Bosscha, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini dilaksanakan bersama tim astronomi dari berbagai lembaga.

Selain di Jawa Barat, BMKG juga melaksanakan rukyat hilal di 37 titik pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, guna memperoleh data yang merata dan komprehensif.

Waktu Konjungsi dan Terbenam Matahari

Konjungsi atau ijtima’ merupakan peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari. Berdasarkan hasil perhitungan, konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:07 UT atau 19:01:07 WIB.

Peristiwa ini terjadi setelah Matahari terbenam, sehingga secara astronomis belum memungkinkan terbentuknya hilal pada hari tersebut. Pada tanggal 17 Februari 2026, Matahari terbenam paling awal di Jayapura pukul 17.56.44 WIT dan paling akhir di Banda Aceh pukul 18.51.25 WIB. Di wilayah Bandung, Matahari terbenam pukul 18.12.49 WIB.

Sementara itu, pada 18 Februari 2026, Matahari terbenam di Kabupaten Bandung Barat pada pukul 18.12.51 WIB, yang menjadi waktu penting dalam pengamatan hilal.

Implikasi terhadap Penentuan Awal Ramadhan

Karena konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, maka secara astronomis rukyat hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1447 H dilakukan setelah Matahari terbenam pada 18 Februari 2026.

Bagi masyarakat yang menggunakan metode rukyat, hasil pengamatan pada tanggal tersebut menjadi acuan utama. Sementara bagi yang menggunakan metode hisab, perlu mempertimbangkan kriteria visibilitas hilal saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026.

Dengan pendekatan ilmiah dan kolaboratif, diharapkan penentuan awal Ramadhan dapat berjalan harmonis dan diterima oleh seluruh umat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *