Menyapa Tuhan dalam Kenyang: Hikmah Hari Tasyrik

Mulyawan Safwandy Nugraha, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Essay

CIANJUREKSPRES.ID- Hari tasyrik hadir sebagai jeda yang sering kita abaikan. Ia datang setelah gema takbir Idul Adha mereda. Dalam jeda itu, sesungguhnya tersimpan ruang refleksi yang hening. Kita baru saja menyaksikan kurban. Kita baru saja mengingat pengorbanan Nabi Ibrahim. Namun sejarah itu tidak dimaksudkan berhenti pada perayaan. Ia mengalir ke dalam kesadaran, melalui hari-hari tasyrik.

Rasulullah ﷺ menyebut hari tasyrik sebagai hari makan, minum, dan berdzikir. Sebuah ungkapan yang tampak sederhana. Tetapi di dalamnya terkandung kedalaman makna. Manusia diajak untuk tidak memisahkan antara kenikmatan dan kesadaran. Makan tidak sekadar mengenyangkan. Minum tidak sekadar menghilangkan dahaga. Semua itu menjadi jalan untuk mengingat Tuhan.

Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak dalam dikotomi. Yang sakral dipisahkan dari yang profan. Ibadah ditempatkan di ruang khusus. Sementara aktivitas sehari-hari berjalan tanpa kesadaran spiritual. Hari tasyrik seakan meruntuhkan sekat itu. Ia mengajarkan bahwa yang ilahi dapat dihadirkan dalam pengalaman yang paling sederhana.

Kenyang, dalam hal ini, menjadi ujian yang tidak kalah berat dari lapar. Dalam lapar, manusia mudah merasa lemah dan bergantung. Tetapi dalam kenyang, ia sering merasa cukup dan lupa. Maka hari tasyrik menjadi semacam latihan batin. Apakah kita masih mampu mengingat Allah ketika segala kebutuhan terpenuhi.

Takbir yang terus dikumandangkan mengandung pesan yang mendalam. Allahu Akbar bukan sekadar lafaz. Ia adalah pernyataan eksistensial. Bahwa di tengah berbagai pencapaian manusia, ada realitas yang melampaui segalanya. Dengan takbir, manusia diajak untuk menata kembali pusat hidupnya.

Kurban yang kita lakukan sebelumnya menemukan relevansinya di sini. Ia tidak berhenti pada tindakan menyembelih. Ia berlanjut dalam kesadaran berbagi. Daging yang dibagikan bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan fisik. Ia adalah simbol keterhubungan sosial. Sebuah pengingat bahwa manusia hidup dalam jejaring kebersamaan.

Dalam distribusi kurban, kita melihat wajah Islam yang ramah. Tidak ada jarak yang kaku antara yang memberi dan yang menerima. Ada kehangatan yang mengalir. Ada rasa saling memiliki. Inilah bentuk spiritualitas yang membumi. Yang tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga tentang manusia.

Larangan berpuasa pada hari tasyrik mengandung pesan keseimbangan. Agama tidak dimaksudkan untuk menekan kehidupan. Ia hadir untuk mengarahkan. Menikmati nikmat bukanlah sesuatu yang tercela. Yang penting adalah kesadaran di dalamnya. Bahwa semua yang kita rasakan adalah anugerah.

Bagi yang berhaji, hari tasyrik diisi dengan melontar jumrah. Sebuah simbol yang sarat makna. Ia menggambarkan pergulatan manusia melawan kecenderungan negatif dalam dirinya. Sementara bagi yang tidak berhaji, pesan itu tetap relevan. Setiap orang memiliki “jumrah” yang harus dihadapi dalam hidupnya.

Akhirnya, hari tasyrik mengajak kita untuk memperlambat langkah. Tidak terburu kembali pada rutinitas. Ada pesan yang perlu diserap. Bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja dan memiliki. Tetapi juga tentang mengingat dan berbagi.

Dalam keheningan hari tasyrik, kita diajak menyapa Tuhan. Bukan dalam kesulitan, tetapi dalam kelapangan. Dan mungkin, justru di situlah letak kedewasaan iman. Ketika manusia tetap terhubung dengan Yang Ilahi, dalam segala keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *