Mantan Sekda Cianjur Jadi Korban Peretasan WhatsApp, Pelaku Sebar File Berbahaya

Ilustrasi-Sejumlah mantan pejabat hingga Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur menjadi korban peretasan berantai.(Foto: Pixabay)

CIANJUREKSPRES.ID – Sejumlah mantan pejabat hingga Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur menjadi korban peretasan berantai dengan modus undangan pernikahan digital. Pelaku diduga menyebarkan file aplikasi berbahaya melalui WhatsApp untuk mengambil alih akun korban dan menipu kontak yang tersimpan di dalamnya.

Salah satu korban peretasan tersebut yakni mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cianjur periode 2013-2016, Oting Zaenal Muttaqin.

Oting mengatakan awalnya dirinya menerima file undangan pernikahan melalui pesan WhatsApp. Namun setelah file tersebut diunduh, akun WhatsApp miliknya diduga diretas dan digunakan untuk menyebarkan file serupa ke sejumlah kontak lainnya.

“Betul, kemarin handphone saya diretas. Kontak saya digunakan untuk mengirim file aplikasi yang dipakai pelaku untuk meretas nomor lain,” katanya, Selasa 19 Mei 2026.

Dia mengaku baru menyadari akun WhatsApp miliknya diretas setelah beberapa rekan menghubunginya terkait pesan mencurigakan yang dikirim dari nomornya.

“Banyak rekan yang menghubungi karena menerima file undangan itu dari nomor saya,” katanya.

Menurutnya, sejumlah penerima pesan juga sempat mengunduh file tersebut hingga ikut menjadi korban peretasan.

“Saya cek ternyata beberapa rekan juga kena. Salah satunya Pak Atte Adha, mantan Kepala Dinas PUTR Cianjur,” tuturnya.

Tak hanya digunakan untuk menyebarkan file berbahaya, akun WhatsApp korban juga dipakai pelaku untuk meminta pinjaman uang kepada kontak yang tersimpan di ponsel korban.

“Kalau di nomor Pak Atte, pelaku sampai mengirim pesan pinjaman uang dengan menggunakan rekening atas nama yang sama,” kata Oting.

Dia menyebut dalam beberapa hari terakhir korban peretasan terus bertambah dan menyasar sejumlah pejabat maupun ASN di lingkungan Pemkab Cianjur.

“Korban terus bertambah karena sifatnya berantai. Jadi setelah satu nomor diretas, pelaku mengirim lagi ke kontak lainnya,” ujarnya.

Salah seorang korban penipuan berinisial H mengaku sempat percaya dan mengirim sejumlah uang karena pesan tersebut dikirim langsung dari nomor rekannya sendiri.

“Awalnya saya percaya karena nomornya memang nomor teman saya. Bahkan nama rekeningnya juga sama, jadi saya tidak curiga,” katanya.

Namun dirinya baru menyadari menjadi korban penipuan setelah mendapat informasi kalau akun WhatsApp rekannya telah diretas.

“Waktu itu dia minta uang Rp2 juta. Saya sempat transfer sebagian uang. Pas mau kirim lagi, ternyata saya dapat kabar kalau nomornya diretas. Pas saya konfirmasi ke keluarganya, ternyata benar diretas,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Cianjur, AKBP Akhmad Alexander Yurikho Hadi, mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan digital yang memanfaatkan teknologi.

“Jangan mudah mengunduh aplikasi atau konten apapun. Silakan lakukan konfirmasi dan verifikasi terlebih dahulu, karena modus kejahatan berbasis teknologi sekarang sangat berkembang,” katanya.

Dia juga meminta masyarakat yang merasa menjadi korban peretasan maupun penipuan segera melapor ke pihak kepolisian.

“Silakan lapor, nanti kami proses lebih lanjut dan lakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus ini,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *