Opini  

KOPRI PMII STAINU Cianjur: Menjaga Nalar Kritis di Tengah Euforia Simbol

Siti Nurazizah Jamil (Ketua KOPRI PMII STAINU Cianjur)

KOPRI PMII STAINU Cianjur: Menjaga Nalar Kritis di Tengah Euforia Simbol

CIANJUREKSPRES.ID- Di tengah dinamika Cianjur hari ini, kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah masyarakat dan para elit sudah benar-benar bergerak dari sekadar memuliakan simbol menuju menghidupkan pengetahuan sebagai fondasi perubahan?

Narasi “Eyang Surya Kancana berwujud Universitas Surya Kencana, bukan lagi naik kereta kencana” sering digaungkan sebagai simbol transformasi. Namun, bagi kami di KOPRI PMII STAINU Cianjur, narasi ini tidak cukup berhenti sebagai wacana. Ia harus diuji dalam realitas: apakah benar pendidikan telah menjadi kekuatan utama dalam membangun kesadaran kritis masyarakat?

Sebab faktanya, persoalan mendasar masih ada, akses pendidikan yang belum merata, kualitas sumber daya manusia yang masih tertinggal, serta kebijakan yang belum sepenuhnya berbasis riset. Ini menunjukkan bahwa transformasi yang kita banggakan belum sepenuhnya menyentuh substansi.

Di ruang-ruang diskusi kecil, kegelisahan itu sering muncul:

“Kalau kampus sudah banyak, kenapa pola pikir masyarakat belum berubah?”
“Apakah pendidikan hanya jadi simbol baru, tanpa benar-benar mengubah keadaan?”
“Atau jangan-jangan kita masih terjebak pada simbol, hanya saja dalam bentuk yang lebih modern?”

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, tetapi refleksi kritis. Sebab sebagai perempuan dan mahasiswa, KOPRI memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat.

Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak ijazah, melainkan harus menjadi pusat lahirnya keberanian berpikir, keberpihakan sosial, dan gerakan perubahan. Di sinilah posisi strategis mahasiswa termasuk kader KOPRI sebagai jembatan antara pengetahuan dan realitas sosial.

Di sisi lain, kepekaan terhadap kondisi masyarakat juga harus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan. Di tengah warga yang masih berjuang menghadapi dampak bencana, kebijakan untuk tetap menggelar kegiatan seremonial seperti kirab budaya patut dipertanyakan secara kritis.

Dalam sebuah percakapan sederhana, suara itu terasa begitu nyata:

“Kenapa anggaran untuk kirab tetap ada, sementara warga masih kesulitan?”
“Bukankah yang lebih penting sekarang adalah pemulihan dan kebutuhan dasar masyarakat?”

Budaya tentu penting sebagai identitas, tetapi tanpa kepekaan sosial, ia bisa kehilangan maknanya. Menempatkan budaya secara proporsional bukan berarti menolak, melainkan memastikan bahwa kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama.

Bagi KOPRI PMII STAINU Cianjur, perjuangan hari ini adalah memastikan bahwa setiap kebijakan dan setiap gerakan berangkat dari data, empati, dan keberpihakan. Bahwa ilmu tidak hanya menjadi simbol intelektual, tetapi menjadi alat untuk memperjuangkan keadilan sosial.

Karena pada akhirnya, transformasi yang kita harapkan bukan sekadar perubahan bentuk dari mitos ke institusi, tetapi perubahan cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan. Jika tidak, maka kita hanya akan menyaksikan perpindahan simbol, dari yang tradisional ke yang modern, tanpa perubahan esensial.

Dan di titik inilah, KOPRI hadir: menjaga kesadaran, merawat keberanian berpikir, dan memastikan bahwa perubahan benar-benar terjadi, bukan hanya diceritakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *