Pascagempa Bumi 5,6 M, Ratusan Siswa DTA di Cugenang Cianjur Masih Belajar di Gubuk Bambu

ratusan siswa Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Sabilunajah Al Bariyah di Kampung Tanjakan, Desa Padaluyu, Kecamatan Cugenang, masih harus menjalani kegiatan belajar dalam kondisi serba terbatas.(Cianjur Ekspres/Akmal Esa Nugraha)

CIANJUREKSPRES.ID – Pasca gempa bumi berkekuatan 5,6 magnitudo yang mengguncang Kabupaten Cianjur pada tahun 2022 lalu, ratusan siswa Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Sabilunajah Al Bariyah di Kampung Tanjakan, Desa Padaluyu, Kecamatan Cugenang, masih harus menjalani kegiatan belajar dalam kondisi serba terbatas.

Sampai saat ini, para siswa terpaksa belajar di bangunan darurat berupa gubuk bambu dengan dinding terpal dan ruang terbuka yang jauh dari kata layak. Sebagian lainnya bahkan menggunakan area sekitar tempat ziarah pemakaman sebagai ruang belajar karena keterbatasan fasilitas.

Kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar kerap terganggu. Saat cuaca panas, ruang kelas menjadi sangat gerah karena minim perlindungan. Sementara ketika hujan turun, air kerap masuk ke dalam ruangan hingga menyebabkan genangan, memaksa kegiatan belajar dihentikan sementara.

Pemilik Yayasan DTA Sabilunajah Al Bariyah, Misbahudin, mengatakan bangunan madrasah yang sebelumnya digunakan hancur akibat gempa, sehingga pihaknya bersama warga berinisiatif membangun ruang belajar seadanya agar kegiatan tetap berjalan.

“Dulu kami punya bangunan madrasah serbaguna, tapi rusak berat saat gempa. Akhirnya sekarang belajar di tempat seadanya seperti ini,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya perbaikan fasilitas yang memadai. Saat ini, hanya terdapat dua ruang darurat yang digunakan, yakni gubuk bambu dan area terbuka di sekitar makam.

“Kalau hujan, kegiatan terpaksa berhenti dulu karena air masuk. Anak-anak harus menepi sambil menunggu hujan reda,” katanya.

Dia menambahkan, jumlah siswa yang mencapai sekitar 170 orang membuat keterbatasan ruang semakin terasa. Bahkan, sekitar 100 siswa terpaksa menggunakan rumah pribadinya sebagai ruang belajar tambahan.

“Karena tidak cukup, sebagian siswa belajar di rumah saya. Itu pun seadanya,” katanya.

Meski dalam kondisi penuh keterbatasan, Misbahudin mengaku para siswa tetap menunjukkan semangat tinggi dalam mengikuti pembelajaran.

“Alhamdulillah anak-anak masih semangat, walaupun fasilitasnya sangat terbatas,” katanya.

Namun, dia menyayangkan hingga saat ini belum ada bantuan maupun tindak lanjut dari pemerintah, baik tingkat desa maupun daerah, terkait pembangunan kembali fasilitas belajar yang layak.

“Sudah hampir tiga tahun, tapi belum ada tanggapan atau bantuan untuk pembangunan ruang kelas baru,” katanya.

Salah seorang siswa kelas 5, Rizki, mengaku sering merasa tidak nyaman saat mengikuti kegiatan belajar di gubuk bambu tersebut. Dia menyebut kondisi panas dan kebocoran saat hujan menjadi hal yang sering dialami.

“Kalau siang panas dan gerah, kalau hujan suka basah karena air masuk ke dalam,” katanya.

Meski demikian, Rizki mengaku tetap senang bisa belajar dan berkumpul bersama teman-temannya setiap hari.

“Masih tetap semangat, karena bisa belajar dan ketemu teman-teman,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *